Suku Bai (Tayli) Di China

Untuk penggemar cerita silat, selain Trilogi Rajawali, Pendekar Negeri Taili yang dikarang juga oleh Jin Yong (Chin Yung) sangat popular di Indonesia. Sedikit yang tahu bahwa Jin Yong itu adalah orang Mancu, etnik minoritas yang pernah memerintah Tiongkok jaman Sin Tiauw Hiap Lu (Pemerintahan Kim) dan Dinasti Qing (Ching dulu Tjeng).

Cerita ini sangat dikenal dengan latar belakang sejarah dari Negeri Dali (lebih dikenal dengan nama Tayli). Dali sampai di jaman ini masih ada dan terletak di Yunnan. Negara yang dulu menyimpan 1001 cerita tentang keindahan gunung, lembah dan kecantikan penduduknya serta cerita tentang kepahlawan dari Kerajaan Dali.

Di sanalah bermukim banyak suku-etnik etnik minoritas dari China. Salah satunya adalah Suku Bai.

Penduduk Bai berjumlah 1,858,063, orang, 80% hidup dalam komunitas Suku Bai di Dali, Yunnan, dan sisanya tersebar di antara Xichang dan Bijie, daerah Sizhuan dan Guizhou.

Bahasa yang digunakan Suku Bai masih berhubungan dengan Suku Yi dari Tibet. Didominasi oleh banyak huruf China dikarenakan Suku Bai di masa lalu menjalin hubungan yang baik dan berkaitan dengan Suku Han.

Suku Bai berdiam di sekitar delta sungai di Yunnan, di daerah Lancang, Nujiang, dan Jinsha. Berdekatan dengan Danau Erhai. Cuaca yang baik menjadikan daerah Suku Bai tempat yang cocok untuk bertanam padi. Di musim panas, ladang Suku Bai ditanami padi, di musim dingin ditanami kacang-kacangan, kapas, tebu dan gandum. Gunung Dianchang kaya deposit marmer Yunnan yang terkenal, berwarna putih bersih dengan urat-urat merah, biru muda, hijau dan kuning susu. Marmer ini berharga sebagai bahan bangunan maupun untuk diukir.

Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Suku Bai telah ada sejak 2000 ribuan tahun silam. Penduduk di sekitar Erhai mempunyai hubungan erat dengan Suku Han di masa pemerintahan Dinasti Qin (221-207 B.C) dan Dinasti Han (206 B.C – A.D. 220). Pada tahun 109 sebelum Masehi, Suku Han mengirimkan utusan dan mendirikan daerah administratif, mengajarkan cara membuat peralatan dari besi, dan bercocok tanam.

Para petinggi Suku Bai bersatu dengan suku Yi mendirikan kerajaan. Kerajaan pertama di Yunnan, dan pemimpin pertama bernama Piluoge yang diangkat oleh Kaisar Tang. Rezim pertama ini diberi gelar Nanzhao. Regim ini bertahan selama 250 tahun. Setelah rezim ini yang berakhir pada tahun 902, muncul Kerajaan Dali. Kerajaan Dali bertahan selama 300 tahun (937 -1253) dan tunduk bersatu di bawah kekuasaan Kaisar Song (967 – 1279). Di masa-masa itu Suku Bai mengalami jaman keemasan, mereka memberikan obat-obatan, kerajinan tangan dan menukarkan dengan pengetahuan ekonomi dan cara-cara bercocok tanam dengan Suku Han, serta kebudayan menulis.

Kerajaan ini dimusnahkan oleh Mongolia pada abad ke 13, setelah itu berganti lagi di bawah pemerintahan Dinasti Yuan (1206-1368). Suku Bai mengalami penjajahan dengan system feodal, tanah-tanah mereka diambil dan dijadikan tanah negara. Seiring dengan bergantinya kekuasaan kaisar di China, Suku Bai juga mengalami pergantian penjajahan, dari Yuan sampai diambil alih oleh Dinasti Ming (1268-1644) dan Dinasti Qing, berakhir dengan dibentuknya Republik Rakyat China atau Tiongkok, Suku Bai tidak pernah mengalami masa kemerdekaan, hanya tunduk dari satu penjajahan ke jajahan lain.

Suku Bai adalah pemahat sejati, dan arsitek yang jenius. Bangunan 3 pagoda di Dali ChongSheng adalah bukti nyata. Bangunan ini dibangun sejak jaman Dinasti Tang (618 – 907), begitu pula bangunan Dayan Pagoda di Xian adalah bukti kehebatan Suku Bai. Pahatan dan ukiran dikerjakan dengan teliti. Dibangun pada masa Dinasti Tang, lantai 16 menara utama adalah 60 meter tinggi dan masih berdiri tegak setelah lebih dari 1.000 tahun

Bukan hanya dalam pembangunan dan memahat, Suku Bai sejak ribuan tahun lalu telah membangun irigasi untuk pengairan sawah seluas 10 ribu hektar. Banyak peninggalan bangunan-bangunan di tepi danau Erhai yang saat ini menunjukkan bahwa Suku Bai telah mengenal ilmu perbintangan dan pengobatan. Selain itu Suku Bai juga menyukai kesenian menari dan menyanyi. Tarian Barongsai adalah salah satu hasil kreasi Suku Bai pada jaman Dinasti Tang. Selain itu Opera Bai adalah cikal daripada Opera Suku Han. Suku Bai mempunyai pelukis terkenal Zhang Shun dan Wang Feng Zong, hasil karya terbaik mereka dicuri oleh negara asing di Beijing pada tahun 900.

Suku Bai kebanyakan beragama Buddha. Baju yang dikenakan Suku Bai berwarna dasar putih, karena itu mereka disebut Bai dalam bahasa China yang berarti putih, dengan sulaman dan bordiran bunga-bunga. „The March Fair“, yang jatuh antara bulan Maret 15 dan 20 dari kalender lunar, adalah festival besar Suku Bai.

Dirayakan setiap tahun di kaki Bukit Diancang sebelah barat kota Dali. Penduduk Bai berkumpul untuk olahraga kontes dan pertunjukan teater. Mereka berkumpul di sana untuk menikmati tari-tarian, pacuan kuda dan permainan lainnya. Juni 25 adalah „Festival Obor“. Pada hari itu, obor dinyalakan di mana-mana untuk memberkati orang-orang dengan kesehatan yang baik dan keberuntungan. Pita bantalan dengan kata-kata keberuntungan digantungkan di depan pintu dan di samping obor pintu masuk desa. Obor dimasang tinggi-tinggi di desa, di ladang-ladang untuk mengusir serangga.

Dari catatan Nonik Dahlia

Sumber:
http://baltyra.com/2009/10/23/56-etnis-suku-di-china-suku-bai/

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s