Upacara Cohtau pada pernikahan seorang Nyonya peranakan

Pada malam sebelum pernikahannya, seorang Nyonya Peranakan harus berpakaian putih dan menjalani Cohtau. Seorang pengantin wanita harus duduk di atas timbangan beras, untuk menandakan kepergiannya.

Ritual membutuhkan alamanak Tionghoa yang mewakili kebijaksanaan, timbangan yang melambangkan keharmonisan antara pasangan, penggaris yang melambangkan penilaian yang baik, dan sisir menandakan rezeki yang lancar.

Sisiran pertama sampai akhir hayat, sisiran kedua sampai rambut memutih. Sisiran ketiga untuk keluarga yang makmur.

Menurut tradisi, poni rambut harus dikepang, Jika kepangannya lurus, itu berarti pengantin wanita adalah sempurna dan suci.

Gunting untuk memotong sedikit rambut sang mempelai pria dan sedikit rambut dari pengantin wanita. kemudian kedua potongan rambut disatukan diikat dengan pita merah. Dari situ muncullah frasa „jiefa wei fuqi“ yang artinya menggunting rambut menjadi suami istri.  ~ aldithe

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s