Yahudi di Kaifeng, China

Yahudi Kaifeng adalah komunitas Yahudi di China yang paling lengkap catatannya. Mereka tinggal di dalam kota Kaifeng di provinsi Henan. Meskipun di antara penduduk China umumnya mereka tidak begitu menonjol, mereka telah menarik minat banyak pengunjung Eropa yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pusat budaya Yahudi yang paling jauh letaknya ini. Orang Yahudi di China biasanya menyebut diri mereka Youtai (atau Youtai ren /犹太人; ren = orang) dalam bahasa Mandarin standar — juga istilah untuk Yahudi pada umumnya dalam bahasa Mandarin pada masa kini — komunitas ini telah lama dikenal oleh tetangga-tetangga mereka, orang-orang suku Han, sebagai pemeluk Diao jin jiao (扚筋教), yang artinya lebih kurang, agama yang tidak makan urat.

Keberadaan kelompok keagamaan dan etnis yang tidak terputus ini, yang berlangsung selama lebih dari 700 tahun dalam lingkungan sosial-budaya yang sama sekali berbeda dan yang kuat didominiasi oleh prinsip-prinsip moral dan etis Konghucu, adalah sebuah gejala unik, bukan hanya di dalam sejarah China, tetapi juga di dalam peradaban Yahudi selama beribu-ribu tahun.

Sejarah

Kebanyakan ahli sejarah setuju bahwa komunitas Yahudi telah ada di Kaifeng sejak Dinasti Song Utara (960-1127), namun ada beberapa mencatat tanggal kedatangan mereka sejak Dinasti Tang (618-907) atau sebelumnya.

Waktu Dinasti Ming (1368-1644), seorang kaisar Ming memberikan tujuh marga pada orang-orang Yahudi, di mana mereka diidentifikasi hari ini: Ai, Shi, Gao, Jin, Li, Zhang, dan Zhao. Pada awal abad ke-20, salah satu klan Kaifeng, Zhang, sebagian besar telah memeluk Islam. Dua klan lainnya, Jin dan Shi, adalah sepadan dengan nama Yahudi yang umum di barat: Emas dan Batu.

Orang menyimpulkan bahwa leluhur orang Yahudi Kaifeng berasal dari Asia Tengah. Kaifeng, yang saat itu adalah ibukota Utara Dinasti Song, adalah sebuah kota kosmopolitan pada cabang Jalan Sutra. Diduga bahwa sebuah komunitas kecil Yahudi, kemungkinan besar dari Persia atau India, tiba baik melalui jalan darat atau melalui rute laut, dan menetap di kota itu. Pada 1163 mereka membangun sebuah sinagoga yang dikelilingi oleh ruang belajar, Mikveh, dapur umum, fasilitas penyembelihan kosher, dan Sukkah. Sinagoga, yang dikenal sebagai Kuil Kemurnian dan Kebaikan, dihancurkan oleh api dan banjir, dan dipulihkan beberapa kali. Namun setelah banjir pada tahun 1852, sinagoga itu telah menjadi puing-puing.

Orang-orang Yahudi yang mengelola sinagoga di Kaifeng disebut „mullah“. Banjir dan kebakaran berulang kali menghancurkan buku-buku dari sinagoga Kaifeng, mereka memperoleh beberapa penggantian dari Ningxia dan Ningbo, dan gulungan Taurat Ibrani lainnya dibeli dari seorang Muslim di Ning-Keang-chow di Shen-se (Shanxi), yang memperolehnya dari seorang Yahudi di Canton.

Pengelana Italia abad ke-13, Marco Polo, mungkin pernah mendapatkan laporan tentang komunitas-komunitas Yahudi di China. Namun keberadaan orang Yahudi di China saat itu tidak banyak diketahui oleh dunia hingga 1605, ketika Matteo Ricci yang saat itu berada di Beijing, secara kebetulan bertemu dengan seorang Yahudi dari komunitas Kaifeng, yang sedang mengikuti ujian negara untuk tingkat jinshi. Saat itulah penelitian orang Eropa terhadap orang Yahudi di Kaifeng dimulai, umumnya dilakukan oleh para misionaris Eropa.

Menurut Ricci dalam bukunya De Christiana expeditione apud Sinas, tamunya, bernama Ai Tian (Ai T’ien) (艾 田) menjelaskan bahwa ia menyembah satu Tuhan. Hal ini dicatat bahwa ketika ia melihat gambaran Kristen Maria dengan Yesus yang masih kanak-kanak, ia percaya gambar itu adalah Rebecca dengan Esau atau Yakub. Ai mengatakan bahwa banyak orang Yahudi lain yang tinggal di Kaifeng, mereka memiliki sinagoga indah (礼拜寺 libai si) dan memiliki sejumlah besar catatan-catatan tertulis dan buku.

Sekitar tiga tahun setelah kunjungan Ai, Ricci mengirim seorang Jesuit China Broeder Lay untuk mengunjungi Kaifeng, ia menyalin dari awal hingga akhir dari kitab suci yang disimpan di sinagoga itu, yang memungkinkan Ricci untuk memverifikasi bahwa mereka memang adalah teks yang sama seperti Pentateukh yang dikenal di Eropa, kecuali bahwa mereka tidak menggunakan diakritk Ibrani (yang merupakan penemuan yang relatif baru).

Ketika Ricci menulis kepada „kepala sinagoga“ di Kaifeng, mengatakan kepadanya bahwa Mesias yang orang Yahudi tunggu-tunggu sudah datang, „Archsynagogus“ menulis kembali, mengatakan bahwa Mesias tidak akan datang hingga sepuluh ribu tahun kemudian. Meskipun demikian, karena khawatir dengan kurangnya penerus yang mampu, rabbi tua tersebut menawarkan Ricci posisinya, jika sang Jesuit mau bergabung dengan keyakinan mereka dan berpantang makan daging babi. Kemudian, tiga orang Yahudi dari Kaifeng, salah satunya termasuk keponakan Ai, mampir ke rumah sang Jesuit saat mengunjungi Beijing untuk urusan bisnis, dan meberikan diri mereka dibaptis. Mereka memberi tahu Ricci bahwa sang rabbi tua telah meninggal, dan (karena Ricci belum menerima tawaran sebelumnya), posisinya diwariskan pada putranya, yang „kurang terpelajar dalam hal yang berkaitan dengan imannya“. Kesan keseluruhan Ricci dari situasi komunitas Yahudi China adalah bahwa „mereka sedang dalam perjalanan untuk menjadi Saracen [yaitu, Muslim] atau kafir.“ Kemudian, sejumlah Jesuit Eropa juga mengunjungi komunitas Yahudi Kaifeng.

Orang Yahudi di China tercerai-berai pada masa pemberontakan Taiping pada tahun 1850-an. Tercatat bahwa setelah tersebar ke mana-mana, mereka kembali ke Kaifeng, namun jumlah mereka tetap kecil dan menghadapi banyak kesulitan.

Tiga prasasti Yahudi yang bertulis ditemukan di Kaifeng. Yang tertua, berasal dari 1489, memperingati pembangunan sebuah sinagoga pada tahun 1163 (menyandang nama 清真寺, Qingzhen Sì, istilah yang sering digunakan untuk masjid dalam bahasa China). Prasasti itu menyatakan bahwa orang-orang Yahudi datang ke China dari India selama periode Dinasti Han (abad ke-2 SM – abad ke-2 M). Prasasti itu mengutip nama-nama dari 70 orang Yahudi dengan nama panggilan China, menggambarkan audiensi mereka dengan seorang kaisar Dinasti Song yang tidak disebutkan namanya, dan daftar transmisi agama mereka dari Abraham ke Nabi Ezra. Tablet kedua, berasal dari 1512 (ditemukan di sinagoga Daojing Si di Xuanzhang) merinci praktek agama Yahudi mereka. Yang ketiga, tanggal 1663, memperingati pembangunan kembali sinagoga Qingzhen Si dan mengulangi informasi yang muncul dalam dua prasasti sebelumnya.

Dua dari prasasti itu mengacu pada tato terkenal yang ditulis di punggung seorang Jenderal Dinasti Song Yue Fei. Tato, yang berbunyi „Kesetiaan tak terhingga kepada negara“ (China disederhanakan: 尽忠 报国; China tradisional: 尽忠 报国, pinyin: jìn zhōng bào guó), pertama kali muncul di salah satu bagian di prasasti 1489, berbicara tentang „kesetiaan tak terhingga orang Yahudi kepada negara dan pangeran“. Yang kedua muncul di salah satu bagian di prasasti 1512, berbicara tentang bagaimana tentara Yahudi dan perwira di tentara China yang „setia tak terhingga kepada negara.“

Pastor Joseph Brucker, seorang peneliti Katolik Roma pada awal abad ke-20, mencatat bahwa Ricci menunjukkan bahwa hanya ada sekitar 10-12 keluarga Yahudi di Kaifeng pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, dan bahwa mereka telah dilaporkan tinggal di sana selama 500-600 tahun. Juga dinyatakan di dalam manuskrip-manuskrip itu bahwa ada jauh lebih banyak orang Yahudi di Hangzhou. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang setia melarikan diri ke selatan bersama dengan calon Kaisar Gaozong ke Hangzhou. Bahkan, prasasti 1489 menyebutkan bagaimana orang-orang Yahudi „meninggalkan Bianliang“ (Kaifeng) setelah Insiden Jingkang.

Selain sejarahnya yang panjang, komunitas Yahudi Kaifeng mempunyai ciri-ciri menonjol lainnya: Meskipun hidup hampir terisolasi dan tanpa hubungan apapun dengan diaspora Yahudi di luar China, komunitas ini masih mampu mempertahankan tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan Yahudi selama ratusan tahun. Namun, meskipun mereka tidak mengalami diskriminasi ataupun penganiayaan dari pihak orang-orang Tionghoa, suatu proses asimilasi yang bertahap berlangsung terus. Hingga abad ke-17, asimilasi orang-orang Yahudi Kaifeng berlangsung secara intensif dan semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan perubahan-perubahan dalam kebiasaan-kebiasaan agama dan ritual Yahudi, tradisi sosial dan bahasa, serta perkawinan campuran antara Yahudi dengan kelompok-kelompok etnis lainnya, seperti orang-orang Han, dan minoritas suku Hui dan suku Manchu di China. Pada tahun 1860-an, sinagoga Yahudi di Kaifeng runtuh karena telah lama tidak dipelihara. Akibatnya, kehidupan keagamaan Yahudi, bersama-sama dengan identitas Yahudi di dalam komunitas itu, berakhir.

Namun, JL Liebermann, orang Yahudi Barat pertama yang mengunjungi Kaifeng pada tahun 1867, mencatat bahwa „mereka masih memiliki tanah pemakaman mereka sendiri“. Pada tahun 1868 dilaporkan bahwa liturgi mereka hanya terdiri dari potongan-potongan dari Alkitab. SM Perlmann, pengusaha Shanghai dan sarjana, menulis pada tahun 1912 bahwa „mereka menguburkan orang yang mati dalam peti mati, tetapi bentuknya berbeda dibandingkan dengan peti yang dibuat orang Cina, dan tidak memakaikan pakaian sekuler seperti yang orang China lakukan, tetapi dengan linen“.

Yahudi Kaifeng Sekarang

Orang-orang Yahudi di China hampir tidak dikenal oleh masyarakat Tionghoa hingga awal abad ke-20, meskipun kehadiran mereka telah dipersaksikan di negara itu selama lebih dari 700 tahun.

Orang-orang Yahudi Eropa yang tinggal di Shanghai pada awal abad ke-20 dilaporkan pernah mengadakan penelitian di Kaifeng, namun tidak banyak memberikan hasil.

Dengan meningkatnya minat terhadap dunia Barat di kalangan para intelektual China pada masa kini, kehadiran orang-orang Yahudi, dan Yudaisme, mulai disadari oleh para sarjana di China. Pokok ini perlahan-lahan berkembang menjadi suatu bidang penelitian tersendiri ketika Republik Rakyat China dibentuk pada 1949.

Karena situasi politik, penelitian tentang orang Yahudi Kaifeng dan Yudaisme di China terhenti hingga awal tahun 1980-an, yaitu ketika reformasi politik dan ekonomi diterapkan. Tapi pada 1980-an, Institut Sino-Yahudi telah didirikan oleh sebuah kelompok sarjana internasional untuk penelitian lebih lanjut sejarah komunitas Yahudi di China, mempromosikan proyek-proyek pendidikan berkaitan dengan sejarah Yahudi di China dan membantu orang-orang Yahudi yang masih ada dari Kaifeng. Pembentukan hubungan diplomatik antara China dan Israel pada tahun 1992 menghidupkan kembali ketertarikan pada Yudaisme dan tradisi Yahudi, terutama mengingat kenyataan bahwa 25.000 pengungsi Yahudi melarikan diri ke Shanghai selama periode Nazi.

Dalam tahun-tahun belakangan, penelitian tentang sejarah dan budaya orang-orang Yahudi Kaifeng dilakukan tidak hanya di China, tetapi juga di negara-negara lain. Minat akademik yang meningkat dalam pokok-pokok terkait akan berlanjut pada masa depan yang dapat dibayangkan.

Orang-orang Yahudi Kaifeng menikah dengan orang China lokal, dan dengan demikian tak dapat dibedakan dalam penampilan dari tetangga mereka yang non-Yahudi. Satu hal yang membedakan mereka dari tetangga mereka adalah tidak makan daging babi. Qu Yinan, seorang wanita China yang baru mengetahui bahwa ia keturunan Yahudi setelah ibunya menghadiri sebuah konferensi tentang minoritas pada tahun 1981, mengatakan keluarganya tidak makan daging babi atau kerang dan kakeknya selalu mengenakan kopiah berwarna biru.

Situasi keturunan Yahudi di Kaifeng saat ini sangat kompleks. Di dalam kerangka Yudaisme rabinik masa kini, hanya garis keturunan Yahudi lewat ibu sajalah yang diakui. Seorang Yahudi adalah seseorang yang berpindah menjadi Yahudi atau yang ibunya adalah seorang Yahudi, sementara orang-orang Yahudi China mengakui hanya garis keturunan patrilineal. Oleh karena itu mereka tidak diakui sebagai Yahudi oleh komunitas-komunitas yang lainnya dan dengan demikian tidak berhak mendapatkan kewarganegaraan Israel secara otomatis di bawah Undang-Undang Kepulangan ke Israel. Oleh karena itu kedutaan Israel di Beijing telah menolak permintaan keturunan orang-orang Yahudi China untuk melakukan aliyah. Kebanyakan dari komunitas Yahudi Kaifeng tidak menyadari garis keturunan mereka, namun karena mereka tidak mempunyai sumber-sumber informasi, kebanyakan dari mereka tidak sadar apa arti garis keturunan itu sesungguhnya.

Sementara sikap resmi terhadap keturunan komunitas Yahudi Kaifeng cukup baik, perlakuan yang mereka terima dari sesama warga negara mereka tidak selalu demikian. Di Kaifeng juga terdapat suatu komunitas Muslim yang dinamik, yang sangat kohesif, setelah bertahan selama 50 tahun menghadapi isolasi dan perlakuan bermusuhan yang didukung resmi oleh negara (pada umumnya, dapat diduga, karena hubungan antara etnis Hui, Uyghur, dan Kazakh dengan pemerintah China). Pada masa itu, keturunan Yahudi Kaifeng dilindungi dan ditolong oleh orang-orang Muslim, sehingga mereka umumnya sulit dibedakan dari komunitas Muslim. Hal ini berubah dengan dibukanya China, ketika kaum Muslim Kaifeng memulihkan hubungannya dengan orang-orang Muslim di negara-negara lain. Komunitas itu menerima bantuan dari negara-negara Muslim dan mengambil sikap anti Israel, anti Yahudi yang berlaku di tempat lain. Masjid Kaifeng menyebarkan propaganda anti Israel “Yerusalem yang direbut”, sementara penduduk Muslim setempat mengembangkan sikap yang kian bermusuhan terhadap orang-orang Yahudi. Karena sedikit orang Yahudi di luar Kaifeng yang pernah berkunjung ke kota itu, sikap kebencian ini ditujukan kepada para keturunan orang-orang Yahudi Kaifeng. Ada desas-desus tentang rencana pogrom, dan informasi tentang hal ini konon disensor oleh pemerintah China. Karena situasi ini, banyak keturunan orang Yahudi Kaifeng yang lebih suka mengaku sebagai etnis Han.

Sensus terakhir mengungkapkan sekitar 400 orang Yahudi resmi di Kaifeng, namun keakuratan jumlah itu meragukan. Sulit untuk memperkirakan jumlah orang Yahudi di negara mana pun, namun di China hal ini hampir tidak mungkin. Angka-angka bisa berubah semata-mata karena perubahan sikap resmi pemerintah. Misalnya, jumlah etnis Manchu pada masa Dinasti Qing terakhir diperkirakan 2 juta orang; setelah kejatuhan Dinasti Qing, orang-orang Manchu —yang kuatir akan mengalami penganiayaan —praktis menghilang dan hanya 500.000 yang tercatat dalam sensus berikutnya. Ketika kebijakan resmi mengenai kaum minoritas berubah, memberikan mereka hak-hak untuk dilindungi, jumlah etnis Manchu melompat hingga 5 juta orang. Jumlah orang yang dapat mengklaim etnisitas Yahudi di Kaifeng dan sekitarnya bisa mencapai hingga ratusan ribu orang.

Baru-baru ini sebuah keluarga keturunan Yahudi Kaifeng secara resmi memeluk Yudaisme dan menerima kewarganegaraan Israel. Pengalaman mereka dijelaskan dalam film dokumenter, Kaifeng, Yerusalem. Pada tanggal 20 Oktober 2009, kelompok pertama Kaifeng Yahudi tiba di Israel, dalam sebuah operasi aliyah yang dikoordinasikan oleh Shavei Israel.

Diterjemahkan dan disusun oleh Nonik Dahlia

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Kaifeng_Jews
http://id.wikipedia.org/wiki/Yahudi_Kaifeng
http://www.aish.com/jw/s/48937262.html

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s