Jin Yong’s Ming Cult: a historical verification

Ming Cult (Beng Kauw) adalah agama yang telah lama terlupakan dan sudah lenyap selama berabad-abad. Di masa lalu, agama itu hanya menarik perhatian sejumlah kecil sarjana seperti arkeolog dan sejarawan. Pada 1970-an, novelis wuxia Louis Cha (Jin Yong) mengangkat sekte ini sebagai topik dalam novelnya „Heavenly Sword And Dragon Sabre“. Sejak itu, Ming Cult yang dulu kabur telah menjadi pusat perhatian jutaan pembaca. Jin Yong pasti telah melakukan penelitian pada sejarah Ming Cult untuk novelnya, mempelajari buku-buku termasuk sejarah gerakan-gerakan rahasia keagamaan tertentu yang memiliki hubungan dengan Ming Cult. Oleh karena itu, para pengikut Ming Cult dan kegiatan mereka dalam novel, banyak sesuai dengan fakta historis. Tapi fiksi tetap fiksi, novel wuxia bukan buku sejarah. Ming Cult versi Jin Yong karenanya itu agak berbeda dari sejarah asli Ming Cult.

Asal Usul Ming Cult

Agama macam apakah Ming Cult? Di bab 25 dalam novel, Zhang Wuji (Thio Bu Ki) membaca sebuah buku yang ditulis oleh Yang Xiao (Yo Siauw) „Catatan Tentang Penyebaran Ming Cult di Cina“, di mana disebutkan bahwa:

„Ming Cult berasal dari Persia dan nama aslinya adalah Mani Cult. Diperkenalkan di Cina pada masa pemerintahan Kaisar Wanita Wu Zetian (Bu Cek Thian) di tahun pertama Yanzai dari Dinasti Tang. Utusan dari Persia mempersembahkan “Kitab Tentang Dualisme” (Sam Cong Keng) di hadapan Kaisar. Sejak itu, orang Cina mulai mempelajari kitab suci itu. Kuil Ming Cult yang didirikan di Chang’an dan Luoyang bernama „Kuil Awan Agung Cahaya“ (Tay in Kong beng sie). Tapi di tahun ketiga Huichang, pemerintah kekaisaran memerintahkan pengeksekusian terhadap para pengikut Ming Cult, kekuatan kultus itu menjadi sangat lemah. Sejak itu, Ming Cult menjadi agama yang dilarang. Untuk bertahan hidup, Ming Cult terpaksa beroperasi secara rahasia. Akhirnya nama Monijiao (Mo ni kauw/Mani Cult) dianggap sebagai Mojiao (Sekte Setan)…“

Mani

Pendiri Mani Cult adalah nabi Mani (216 – 276), yang lahir di propinsi Babilonia yang berada di bawah kekuasaan Persia. Pada usia 12 dan 24, Mani mendapat visi di mana seorang malaikat mengatakan kepadanya bahwa ia akan menjadi nabi wahyu ilahi terakhir. Pada usia 26 Mani mulai melakukan perjalanan panjang, di mana ia menyebut diri sebagai ‚Penyampai Kebenaran‘, dan melakukan perjalanan melalui Kekaisaran Persia hingga mencapai sejauh India, di mana ia mendapat pengaruh dari Buddhisme. Mani berkembang pesat di bawah perlindungan kaisar Persia, Shapur I. Setelah ajarannya menyebar dengan cepat, Mani mulai menentang para imam Zoroaster. Tapi dengan Kaisar Bahram I tahun 274, Mani kehilangan perlindungan. Konon ia meninggal di penjara atau dihukum mati. Kematian Mani, diceritakan sebagai sebuah insiden yang mirip dengan penyaliban Yesus.

Ajaran-ajaran Mani disebut Manikheisme, yaitu kombinasi dari agama Kristen, Gnostisisme, Zoroastrianisme, dan beberapa doktrin agama-agama lain. Pusat dari pengajaran Manikheisme adalah dualisme, bahwa dunia itu sendiri, dan semua makhluk, adalah bagian dari pertempuran antara yang baik, yang diwakili oleh Allah Cahaya; dan yang buruk, kegelapan, diwakili oleh kekuatan yang didorong oleh iri hati dan nafsu. Kedua kekuatan yang independen satu sama lain, tetapi di dunia mereka berbaur. Kebanyakan manusia diciptakan dari materi dari kekuatan yang buruk, tetapi dalam setiap orang ada cahaya ilahi, yang harus dibebaskan dari materi gelap tubuh. Ketika dunia dan semua makhluk diciptakan, kegelapan yang menyerang dicampur dengan beberapa cahaya ilahi. Ketika pertempuran antara terang dan gelap telah terjadi dalam kosmos hingga penciptaan, penciptaan menjadikan dunia manusia sebagai medan pertempuran baru. Segala sesuatu yang memberikan cahaya di dunia ini milik alam ilahi, sementara hal yang menyerap cahaya, milik kegelapan. Makna hidup karena itu sama dengan makna dunia, yaitu untuk berpartisipasi di sisi ilahi dari pertempuran ini. Setiap orang membawa dalam dirinya benih cahaya, dan satu-satunya cara untuk membantu membebaskan benih ini dari kegelapan adalah melalui wawasan dalam proses pertempuran kosmik dan wawasan dalam cara untuk memerangi iri hati dan nafsu.

Manikheisme tersebar di sebagian besar dunia yang dikenal dalam milenium pertama setelah masehi, dari Spanyol hingga Cina. Namun agama itu kemudian menghilang dari Barat di abad ke-10, dan dari Cina pada abad ke 14, dan hari ini sudah punah.

Manikheism Di China

Secara umum diterima bahwa Manikheisme secara resmi diperkenalkan di Cina pada masa pemerintahan Wu Zetian dalam tahun 694 (seperti yang disebutkan dalam novel). Tetapi beberapa sarjana menyatakan bahwa Manikheisme sudah dikenal di Cina sebelum masa pemerintahan Ratu Wu tersebut. Selama sekitar 80 tahun yang dimulai pada 762, Manikeisme adalah agama nasional orang Uighur di Turki, sekutu kuat dari Kekaisaran Tang. Dengan dukungan para Khan Uighur, Manikheisme menjadi sangat berpengaruh di China dan dianggap pimpinan dari Tiga Sekte Agama Asing (Manikeisme, Nestorianisme dan Zoroastrianisme). Tetapi dengan menurunnya Kekaisaran Uighur, Ming Cult perlahan turut kehilangan kekuasaan. Pada tahun ketiga Huichang (843 M) Kaisar Tang Wuzong resmi melarang Mani Cult dan para pengikutnya diadili. Anggota kultus yang lolos dari penindasan bersembunyi dan kehilangan kontak dengan markas Mani Cult di Wilayah Barat.

Dalam generasi kemudian pengikut Mani di Cina mengadaptasi ajaran Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme, perlahan-lahan membuat bentuk Manikheisme yang berbeda yang karakteristik Cina. Selama periode ini Mani Cult diberi nama Ming Cult oleh pengikut-pengikutnya di Cina. Kuil-kuil didirikan dengan gaya biara-biara Buddha untuk menghindari masalah. Kuil di Huabiaoshan di Kota Quanzhou, Jinjiang Prefektur di Provinsi Fujian adalah kuil Mani satu-satunya yang tersisa di dunia.

Ming Cult terkenal karena sifat pemberontaknya, selama Dinasti Liang Akhir (907-923) Ming Cult memulai Pemberontakan Yi Mu. Selama Dinasti Song Utara Ming Cult juga terlibat dalam berbagai kegiatan pemberontakan, khususnya di Tenggara provinsi Jiangsu, Zhejiang dan Fujian. Ming Cult mengalami kebangkitan singkat selama dinasti Yuan ketika banyak orang bergabung dengan barisan mereka untuk melawan pemerintah Mongolia, tetapi setelah berdirinya Dinasti Ming pada tahun 1368, sekte ini perlahan-lahan menghilang dan akhirnya tidak ada lagi.

Ming Cult China dan Ming Sect Persia

Dalam novel, sekte Ming Persia mengirim wali dan rasul mereka ke China untuk menangkap Nenek Bunga Emas (Kim Hoa Popo), dan bahkan mencoba untuk mengontrol Ming Cult Cina dengan Tongkat Kekuasaan Api Kudus. Pemimpin Ming Cult Cina Zhang Wuji harus terlibat dalam pertempuran dengan Persia (Bab 29). Tapi apa hubungan historis yang benar antara sekte Persia dan Cult Cina?

Menurut penelitian sejarah, setelah kematian Mani di 276, banyak pengikutnya yang melarikan diri ke timur dan mendirikan cabang Manikeisme Asia Tengah. Pada abad ke-6, faksi di Asia Tengah secara resmi memutuskan hubungan dengan markas Persia di Babilonia. Agama Mani dibawa ke China melalui Jalan Sutra oleh anggota faksi ini, bukan dengan cara pengutusan. Markas besar Ming Cult Cina terletak di Samarkand. Jadi sebenarnya, pengikut Ming Cina tidak memiliki hubungan apapun dengan sekte Persia. Selain itu, kisah Pedang Langit dan Golok Naga terjadi sekitar 1360, pada masa itu Manikeisme telah punah baik di Persia maupun di Asia Tengah, di mana agama Islam telah menjadi agama mayoritas. Ming Cult di Cina saat itu adalah satu-satunya pergerakan Manichaeist yang ada di dunia.

Jadi hal-hal seperti Sekte Ming Persia datang ke China, pencarian mereka terhadap Perawan Suci, Xiaochao (Siauw Ciauw) untuk kembali ke Persia untuk menjadi pemimpin dari sekte Ming dll (Bab 30) tidak mungkin terjadi.

Ming Cult dan Dinasti Ming

Pada akhir novel, Zhu Yuanzhang (Cu Goan Ciang) berhasil mengelabui Zhang Wuji dan merebut kekuasaan. Ketika ia menjadi kaisar, ia menamai dinastinya Ming untuk menghormati Ming Cult. Tapi secara historis, Zhu Yuanzhang adalah seorang jenderal di bawah pimpinan Liu Futong. Liu Futong adalah anggota dari sekte Teratai Putih, sebuah organisasi semi-religius yang sangat dipengaruhi oleh doktrin Ming Cult. Liu Futong mengklaim bahwa putra pemimpin Teratai Putih Han Shantong, Han Lin’er adalah keturunan dari kekaisaran Dinasti Song. Dia kemudian menyatakan Han Lin’er sebagai „Xiaomingwang“ atau Raja Cahaya Kecil (Raja Cahaya adalah sama dengan Allah Cahaya di Manikeisme), kaisar dari Dinasti Song baru. Setelah kematian Liu Futong, kekuasaaan perlahan pindah ke tangan Zhu Yuanzhang dan Han Lin’er hanya menjadi kaisar boneka. Zhu Yuanzhang kemudian menyuruh bunuh Han Lin’er dan mengangkat diri menjadi kaisar. Zhu kemudian menamakan dinastinya Dinasti Ming untuk „menghormati“ Xiaomingwang dan untuk membuktikan bahwa ia adalah penerus sah dari tahta Han Lin’er. Tidak ada bukti sejarah bahwa Zhu Yuanzhang adalah seorang pengikut Ming Cult, maupun bukti nyata bahwa nama dinasti Ming berasal dari Ming Cult.

Selain itu, juga disebutkan dalam novel bahwa pemimpin pemberontak Fang La (Phoei Lap) dari Dinasti Song Utara juga pernah menjadi pemimpin Ming Cult. Di masa lalu, banyak sarjana mengira Fang La seorang Manichaeist – hanya karena dia vegetarian. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah membuktikan bahwa Fang La tidak memiliki hubungan dengan Cult Ming sama sekali.

Tradisi Dan Adat Istiadat Ming Cult

Mengenai tradisi dan kebiasaan dari sekte Ming, Jin Yong berhasil menggambarkannya dengan sangat benar. Penemuan-penemuan arkeologi di Barat Laut Cina telah membuktikan bahwa banyak hal dalam novel tersebut adalah akurat, seperti anggota Ming Cult yang mengubur mayat mereka telanjang, dll. Jin Yong dihormati dan dipuji karenanya oleh para arkeolog berpengalaman.

Beberapa inkonsistensi kecil dalam novel ini adalah:

  1. Mengenai larangan mengkonsumsi daging dan minuman keras

Dalam novel, Zhang Wuji menghapuskan aturan yang melarang anggota kultus untuk makan daging dan minum anggur, karena kenyataan bahwa makanan yang langka di Cina yang sedang dilanda perang (Bab 25). Alasan lain yang diberikan adalah bahwa markas besar Ming Cult terletak di Kunlunshan di Cina Barat, suatu daerah di mana sayuran langka, untuk menjalani gaya hidup vegetarian karena itu akan sulit (Bab 23). Hal ini tentu saja salah. Di masa lalu, oasis di Wilayah Barat menghasilkan buah-buahan dalam jumlah besar, yang mana merupakan makanan ideal bagi anggota Ming Cult (yang melihat buah sebagai benih Cahaya). Selanjutnya, meskipun makanan langka selama kekacauan politik pada akhir Dinasti Yuan, anggota Ming Cult tidak pernah menghapuskan aturan tentang makan daging. Aturan yang ketat dan tingkat disiplin tinggi, hanya anggota Ming yang memberontak yang melanggar aturan dan makan daging.

  1. Pakaian

Dalam novel tersebut, anggota Ming Cult mengenakan jubah putih dengan lambang bordir Api Kudus di atasnya. Secara historis, para imam dari Cult Ming memang mengenakan jubah putih dan topi putih. Anggota biasa tidak diwajibkan tetapi mereka juga suka memakai pakaian putih. Tapi simbol api hanyalah rekaan Jin Yong belaka.

  1. Pemujaan terhadap api

Dalam novel Pedang Langit dan Golok Naga, anggota Ming Cult menyembah api. Pada kenyataannya, meskipun Manikheisme menghormati Cahaya, para pengikutnya tidak punya ritual menyembahan api. Pemujaan api merupakan aspek Zoroastrianisme. Sejarah Ming Cult tidak melakukan praktek itu, sehingga tidak ada alasan untuk memakai simbol api pada pakaian mereka. Untuk beberapa alasan, Jin Yong meminjam aspek Zoroaster menyembah api dan menggunakannya dalam ceritanya untuk membuat Ming Cult Manikheist lebih menarik. Beberapa orang melihat penyembahan api dalam novel dan karenanya menyimpulkan bahwa Ming Cult adalah Zoroaster.

Diterjemahkan oleh Nonik Dahlia
dari: http://wuxiapedia.com/Research/Religions/Ming-Cult

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s