7 Ibu Kota Kuno Negara China

China (中国) ternyata memiliki banyak ibu kota dalam sejarahnya. Mulai zaman dinasti pertama, Xia (夏朝) sampai Zaman Musim Semi dan Musim Gugur (春秋时代), juga Zaman Negara Perang (战国时代). Ketika Qin Shihuang atau Yin Zheng (秦始皇/嬴政) kaisar pertama negeri China memerintah, barulah ibu kota China terletak di satu tempat.

Tetapi setiap terjadi pergantian dinasti, ibu kota juga hampir selalu berpindah lokasi. Itulah yang menyebabkan China memiliki banyak ibu kota kuno.

Sejak tahun 1988, para ahli sejarah China sepakat untuk menetapkan 7 kota kuno sebagai ibu kota kuno China, yaitu:

1. Anyang (安阳), provinsi Henan (河南)

Merupakan ibu kota Dinasti Shang (商朝, 1556-1046 SM) pada waktu pemerintahan Pan Geng (盤庚) atau Xun (旬). Sebelum Pan Geng berkuasa, ibu kota Dinasti Shang berada di Yanshi (偃师), provinsi Henan. Setelah berkuasa, dia memindahkan ibu kota kekaisaran ke kota Yin (殷) di dekat kota Anyang yang sekarang. Karena itulah, Dinasti Shang sejak zaman Pan Geng sampai Zhou Xin (纣辛) disebut dinasti Yin (殷代).

Pada zaman Dinasti Zhou (周朝, 1046-256 SM), ada dua kota yang dijadikan ibu kota bersama oleh Dinasti Zhou Barat (西周). Yaitu Haojing (镐京) yang didirikan oleh Zhou Wen Wang (周文王) dan Fenjing (沣京) yang didirikan oleh Zhou Wu Wang (周武王). Dua kota ini akrab disebut Fenghao (沣镐). Setelah Fenghao resmi dijadikan ibu kota, Yin tidak lagi dipakai dan hancur menjadi puing-puing.

Pada zaman kuno, kota ini juga sering disebut Beimeng (北蒙) atau Yīnyì (殷邑). Sedangkan Jiagu atau Oracle Bone (甲骨, Tulang Ramalan) menyebut kota ini dengan nama Dayishang (大邑商) atau Shangyi (商邑).

2. Beijing atau Peking (北京), Municipal Beijing (北京市)

Pertama kali dijadikan ibu kota negara oleh negara bagian Yan (燕国) pada zaman Musim Semi dan Musim Gugur (722-481 SM) sampai zaman Negara Perang (475-221 SM). Dinamakan Ji (薊) oleh pemimpin Yan. Disebut juga Yanjing (燕京) yang artinya ‚ibu kota Yan‘.

Setelah diakuisisi oleh negara bagian Qin (秦国), Yanjing dijadikan ibu kota daerah Guanyang (广阳郡).

Pada zaman Dinasti Han (汉朝, 206 SM-220 M), nama kota ini diubah menjadi Fanyang (范陽) yang merupakan ibu kota dari daerah Yuyang (漁陽郡). Pada zaman ini, Fanyang sering diserang oleh suku-suku barbar karena letaknya di perbatasan negara (Inner China).

Pada zaman akhir Dinasti Han, kota ini terletak di prefektur Yizhou dan gubernurnya adalah Liu Yan (刘焉). Setelah Liu Yan mundur, posisinya digantikan oleh Liu Yu (劉虞). Liu Yu kemudian dibunuh oleh Gongsun Zan (公孙瓒) dan menggantikan posisi Liu Yu sebagai komandan Fanyang sekaligus gubernur Yizhou. Saat itu serangan-serangan ke Fanyang mencapai puncaknya pada saat Pemberontakan Selendang Kuning (黄巾之乱).

Selama masa Dinasti Tang (唐朝, 618-907) dan Dinasti Hou Jin (后晋, 936-947) dijadikan markas militer penting dan pusat bisnis. An Lushan (安禄山) memulai pemberontakannya di kota Fanyang. Dan saat naik tahta menjadi Emperor of Great Yan (大燕黃帝), dia menjadikan Fanyang sebagai pusat pemerintahannya.

Dinasti Liao (辽朝) yang berkuasa dari 907-1125 mengubah nama Yanjing menjadi Nanjing (南京) dan menjadikannya ibu kota daerah selatan.

Pada dinasti berikutnya, Dinasti Jin atau Jurchen atau Manchu (金朝, 1115–1234), namanya diubah menjadi Zhongdu (中都).

Dinasti Yuan atau Mongol (元朝, 1271-1368), mengembalikan namanya menjadi Yanjing. Tetapi kemudian dibangunlah sebuah kota bernama Dadu atau Khanbaliq (大都) yang menjadi ibu kota Dinasti Yuan.

Pada zaman Dinasti Ming (大明, 1368-1644), jenderal Xu Da (徐達) merebut kota ini dari tangan Dinasti Yuan. Sekali lagi namanya diubah menjadi Beiping (北平) yang artinya Kedamaian di Utara. Nama Beijing (北京) yang artinya Ibu Kota Utara, resmi menjadi nama kota ini setelah Kaisar Yongle (永乐) mengubah namanya.

3. Kaifeng (开封), provinsi Henan (河南)

Didirikan sebagai ibu kota oleh negara bagian Wei (魏国, 475-221 SM) dengan nama Daliang (大梁). Pada masa itu, kanal pertama dari banyak kanal lainnya di wilayah ini dibangun. Kanal ini menghubungkan sungai setempat dengan Sungai Kuning (黄河).

Setelah Qin menguasai Wei, Daliang dihancurkan dan ditinggalkan kecuali sebuah pasar berukuran sedang.

Pada awal abad ke-7, Daliang berubah menjadi sebuah pusat perdagangan utama ketika kota ini dihubungkan dengan Kanal Besar (大运河) China serta kanal yang mengalir ke provinsi Shandong (山东) di barat.

Pada zaman Dinasti Tang, Daliang dibangun kembali dan diberi nama Bianzhou (汴州).

Bianzhou juga merupakan ibu kota Dinasti Hou Jin, Dinasti Hou Han (后汉, 947-951), dan Dinasti Hou Zhou (后周, 951-960) pada zaman Lima Dinasti (五代十国, 907-960).

Setelah merebut kekuasaan dari Dinasti Hou Zhou, Dinasti Song (宋朝, 960-1279) juga menjadikan Bianzhou ibu kota kekaisaran dan memperluas bagian kota. Saat itu dikenal juga dengan nama Dongjing atau Bianjing, dengan lebih dari 400.000 orang penduduk yang tinggal di sana.

Bianzhou mencapai puncaknya sebagai kota penting pada abad ke-11, ketika kota ini menjadi pusat perdagangan dan industri pada persimpangan dari empat kanal utama. Pada masa ini, kota ini dikelilingi oleh tiga lingkaran tembok kota dan dihuni oleh sekitar 600.000 hingga 700.000 orang penduduk. Diyakini pula, Bianzhou adalah kota terbesar di dunia antara tahun 1013-1127.

Kemegahan kota Bianzhou sirna pada tahun 1127, ketika kota ini jatuh ke tangan para penyerbu Jurchen dan kemudian jatuh ke tangan pemerintahan Dinasti Jin. Kendati tetap merupakan pusat administrasi penting, hanya wilayah kota di dalam lingkungan tembok kota dari Dinasti Song awal yang tetap dihuni, sementara dua lingkaran luarnya ditinggalkan. Kaifeng menjadi ibu kota selatan Dinasti Jin mulai tahun 1157 dan dibangun kembali.

Pada tahun 1214, Dinasti Jin yang terdesak memindahkan ibu kota mereka ke Bianzhou untuk menghindar dari bangsa Mongol.

Pada awal Dinasti Ming pada 1368, Bianzhou dijadikan ibukota Provinsi Henan (河南).

Pada 1642, Bianzhou dibanjiri oleh tentara Dinasti Ming dengan air dari Sungai Kuning untuk mencegah pemberontak dibawah pimpinan petani Li Zicheng (李自成) merebutnya. Setelah bencana ini, kota ini kembali ditinggalkan.

Kaisar Kangxi (康熙帝) dari Dinasti Qing (大清, 1662-1912) membangun Bianzhou kembali. Tetapi pada tahun 1841 terjadi banjir lagi, yang diikuti oleh pembangunan kembali pada 1843. Dan kaisar menamai kota ini Kaifeng, yang menghasilkan Kaifeng seperti saat ini.

Kaifeng terkenal akan adanya komunitas Yahudi di sana, yang disebut juga Yahudi Kaifeng (犹太, Youtai).

4. Luoyang (洛阳), provinsi Henan (河南)

Pada tahun 1136 SM, sebuah perkampungan bernama Chengzhou (成周) dibangun oleh Zhou Gongdan (周公旦, Duke of Zhou) untuk para bangswan Dinasti Shang yang tertangkap.

Pada tahun 510 SM, ibu kota Dinasti Zhou Timur (东周, 770-256 SM) dipindahkan dari Wangcheng (望城) ke Chengzhou.

Pada masa Dinasti Han, kota Luoyang dibangun di atas Chengzhou. Reruntuhan Chengzhou sendiri masih bisa dilihat sampai sekarang, sekitar 2 km di sebelah timur Baima Si (白马寺, Kuil Kuda Putih). Luoyang modern dibangun di atas reruntuhan kota Wangcheng, yang masih bisa dilihat di Taman Wangcheng sampai saat ini.

Pada tahun 25, Luoyang menjadi ibu kota Dinasti Han Timur.

Pada tahun 190, Kanselir Dong Zhuo (董卓) memerintahkan pasukannya untuk membakar dan menghancurkan kota Luoyang.

Setelah ditinggalkan, pada tahun 220 Wei Wendi (魏文帝) atau Cao Pi (曹丕) dibangun kembali dan dijadikan ibu kota negara Wei.

Penerus Wei, Dinasti Jin (晉朝, 265-420) juga menjadikannya ibu kota.

Pada tahun 493, Dinasti Wei Utara (北魏朝, 386-535) memindahkan ibu kotanya dari Datong (大同) ke Luoyang dan memulai pembangunan Long Men Shi Ku (龙门石窟, Gua Longmen). Lebih dari 30.000 patung Buddha dibuat di dalam gua ini.

Pada masa Dinasti Tang, Luoyang adalah ‚Ibu Kota Bagian Timur‘ dan memiliki populasi sekitar satu juta orang penduduk.

Selama masa Lima Dinasti, Luoyang juga merupakan ibu kota Dinasti Hou Tang (后唐, 923-927). Setelah masa itu, Luoyang tidak pernah lagi dijadikan ibu kota oleh dinasti-dinasti penerusnya.

5. Nanjing (南京), provinsi Jiangsu (江苏)

Pada tahun 495 SM, Fu Chai (夫差), pemimpin negara bagian Wu (吴国, 506-473 SM) mendirikan sebuah kota yang dinamakan Ye Cheng (冶城).

Pada tahun 473 SM, negara bagian Yue (506-334 SM) menaklukkan negara bagian Wu dan membangun benteng Yuecheng (越城) di luar Zhonghuamen (中华门, Gerbang China) yang sekarang.

Pada tahun 333 SM, setelah menaklukkan negara bagian Yue, negara bagian Chu (楚国, 1020-223 SM) membangun Jinling Yi (金陵邑) di bagan barat kota Nanjing yang sekarang.

Pada saat Dinasti Qin dan Dinasti Han, kota ini disebut Moling (秣陵).

Nanjing menjadi sebuah ibu kota pertama kali saat Sun Quan (孙权) dari Negara Wu (东吴) di zaman Tiga Kerajaan memindahkan ibu kota dari Wuchang (武昌) ke Jianye (建邺) pada tahun 229. Dia mendirikan Jianye ini dari perluasan Jinling Yi pada tahun 211.

Pada tahun 317, ketika Dinasti Jin diburu oleh para penyerbu, ibu kota dipindahkan ke Jiankang (sekarang Nanjing).

Ketika Dinasti Sui (隋, 581-618) menyatukan China, hampir seluruh Jiankang dihancurkan sehingga menjadi sebuah kota kecil.

Kembali direkonstruksi pada zaman Dinasti Tang. Ketika Dinasti Tang Selatan (南唐, 937–975) berkuasa, kota ini kembali dijadikan ibu kota dengan nama Jinling (金陵).

Kaisar pertama Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang (朱元璋) atau Hongwu Di (洪武帝) membangun kembali kota ini dan menjadikannya ibu kota China pada tahun 1368.

Selama masa pemerintahan Dinasti Qing, daerah Nanjing dikenal dengan nama Jiangning (江宁) sebagai kantor Gubernur Lingjiang (两江总督).

Nanjing juga dijadikan ibu kota Kerajaan Taiping pada pertengahan abad ke-19, dan diubah namanya menjadi Tianjing (天京, Ibu Kota Surga).

Pada masa Republik China (中华民国, 1911-1949), presiden China pertama, Dr. Sun Yat Sen (孫中山, Sun Zhongshan) menjadikan Nanjing sebagai ibu kota.

6. Hangzhou (杭州), provinsi Zhejiang (浙江)

Didirikan pada masa Dinasti Qin, tetapi tembok kotanya baru dibangun pada tahun 591 oleh Dinasti Sui.

Merupakan ibu kota dari Kerajaan Wuyue (吴越国, 907-978) pada masa Lima Dinasti. Dinamakan Xifu pada saat itu.

Pada masa Dinasti Song Selatan (南宋朝, 1127-1279) dijadikan sebagai ibu kota dan dikenal dengan nama Lin’an (臨安).

7. Chang’an (长安) atau Xi’an (西安), provinsi Shaanxi (陕西)

Didirikan oleh Dinasti Zhou pada abad ke-11 SM. Saat itu mereka mendirikan dua kota, Fengjing dan Haojing yang terletak di sebelah barat daya kota Xi’an sekarang.

Dinasti Qin beribu kota di Xianyang (咸阳), di sebelah barat laut kota Xi’an sekarang.

Pada tahun 202 SM, sang pendiri Dinasti Han, Liu Bang (刘邦) atau Gao Huangdi (高皇帝) mendirikan ibu kotanya di Kabupaten Chang’an. Secara tradisional, peristiwa ini diakui sebagai tanggal didirikannya Chang’an atau Xi’an. Tembok kota Chang’an dibangun pada tahun 194 SM dan selesai 4 tahun kemudian.

Pada tahun 190, Dong Zhuo memindahkan ibu kota dari Luoyang ke Chang’an untuk menghindari pasukan koalisi yang membela Dinasti Han.

Dijadikan ibu kota oleh oleh pemimpin Dinasti Xin (新朝, 9-23), Wang Mang (王莽).

Sempat dijadikan ibu kota selama 4 tahun oleh Dinasti Jin. Diawali pada tahun 312 ketika Jin Huaidi (晋怀帝, Kaisar Huai) ditangkap, ibu kota dipindahkan dari Luoyang ke Chang’an. Tetapi pada tahun 316, Jin Mindi (晋愍帝, Kaisar Min) ditangkap, dan ibu kota dipindahkan dari Chang’an ke Jiankang (Nanjing).

Merupakan ibu kota Dinasti Wei Barat (西魏朝, 535-557).

Merupakan ibu kota Dinasti Zhou Timur (北周朝, 557-581).

Merupakan ibu kota Dinasti Sui.

Menjadi ibu kota Dinasti Tang dari tahun 618-904, sebelum akhirnya dipindahkan ke Luoyang karena penyerangan dari Zhu Quanzhong (朱全忠), seorang jiedushi (节度使, gubernur militer) pada masa menjelang akhir Dinasti Tang. Zhu Quanzhong sendiri akhirnya merebut tahta dari Kaisar Zhaoxuan (昭宣帝) atau Li Zhu (李柷) dan mendirikan Dinasti Hou Liang (后梁, 907-923). Setelah penyerangan tersebut, hanya sedikit saja wilayah kota yang masih didiami oleh penduduk.

Sebenarnya masih ada beberapa kota yang juga dipakai sebagai ibu kota pada zaman China kuno, tetapi peranan mereka tidak sebesar kota-kota kuno lainnya di atas. Mungkin hanya Chengdu saja yang saya rasa bisa dianggap ibu kota China kuno yang ke-8.

8.  Chengdu (成都), Sichuan (四川)

Pertama kali didirikan pada tahun 316 SM oleh Zhang Yi (张仪), seorang jenderal dari negara bagian Qin (秦国) setelah mereka menguasai Shu (古蜀).

Pada saat Dinasti Han, namanya diubah menjadi Yizhou (益州).Setelah kejatuhan era Dinasti Han Timur (23 SM-220 M), pada era Tiga Negara (三国时代) Liu Bei (刘备) menjadikan Chengdu sebagai ibu kota negara Shu-Han (蜀汉, 221-263).

Pada zaman Dinasti Song Utara (北宋, 960–1127), dikenal sebagai tempat pertama digunakannya uang kertas (960).

Pada tahun 1279, bangsa Mongol menghancurkan kota Chengdu dan membunuh sekitar 1,4 juta orang penduduk.

Dari catatan: Nonik Dahlia 

Sumber:
1) http://www.wikipedia.org
2) https://www.facebook.com/notes/stefanus-kristiawan/7-ibu-kota-kuno-negara-china/193584627331162

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s