Teh, Perak, Opium, dan Perang: Sejarah Teh yang Kelam

Paling sedikit ada lima jenis teh yang dikenal dunia: teh hitam, teh hijau, teh putih, teh oolong, dan teh pu’er. Semuanya berasal dari dua varitas tanaman dari keluarga Camellia: Camellia sinensis, yaitu varitas daun sempit, berasal dari China tengah dan Jepang, hidup di wilayah dingin dan pegunungan. Sementara varitas daun lebar, Camellia assamica, hidup di tempat lembab dan klimat tropis, ditemukan di timur laut India dan provinsi Yunnan di China. Jenis-jenis teh yang didapat dihasilkan dari perbedaan cara pemrosesannya.

Saat ini Turki adalah pengkonsumsi teh global terbesar dengan pengkonsumsian per tahun 7.693 ton, sementara Irlandia, Britania Raya dan Rusia masing-masing di tempat kedua, ketiga, dan keempat. Maroko adalah pengkonsumsi teh terbesar di Afrika dengan pengkonsumsian per tahun sekitar 1.134 ton, diikuti Mesir 1.043 ton. Pada 2017 China menerima 1,45 milyar dolar dari pengeksporan teh tapi Kenya tetap eksporter teh terbesar secara global, membukukan 25% dari seluruh ekspor teh dunia.

Asal Mula Teh

Menurut legenda, teh pertama kali ditemukan oleh tokoh mitologi Shennong di tahun 2737 SM. Diceritakan Shennong selalu memasak airnya sebelum diminum supaya bersih. Suatu hari dalam perjalanan jauh ke pelosok negeri, ia dan pasukannya berhenti untuk mengaso. Pelayannya segera memasakkan air untuknya, tak sengaja sehelai daun dari semak teh liar jatuh ke dalam air masakan. Daun itu membuat air menjadi berwarna kecoklatan. Tidak memperhatikan, si pelayan tetap menyajikannya kepada Shennong. Shennong meminumnya dan merasa segar, demikianlah budaya minum teh pun dimulai.

Erya, kamus Mandarin di abad ke-3 SM, mencatat bahwa penginfusian sejenis daun telah dilakukan sejak zaman Dinasti Zhou (1046-256 SM). Di zaman Dinasti Han (206 SM-256) teh diminum sebagai obat. Sedangkan menikmati teh sebagai minuman rekreasi tertanggal sejak zaman Dinasti Tang (618-907) atau lebih awal. Teh yang dikompres seperti bata disebut teh putih juga sudah diproduksi di zaman ini. Chajing (茶經) karya Lu Yu (陸羽)(729-804) adalah monografi tentang teh yang pertama kali ditulis. Menurut Chajing, sekitar tahun 760, budaya minum teh telah meluas. Buku ini juga mencatat bagaimana cara memelihara tanaman teh, memproses daunnya, dan mempersiapkannya sebagai minuman. Teh juga disebut sebagai salah satu item penting dalam budaya Tionghoa dalam buku Tujuh Kebutuhan Hidup Sehari-Hari (開門七件事) zaman Dinasti Song.

Etimologi

Karakter Mandarin untuk teh 茶, awalnya ditulis dengan goresan ekstra 荼 (dilafalkan “tú”, digunakan sebagai kata untuk herba yang pahit), dan berubah menjadi bentuk tulisannya yang sekarang semasa Dinasti Tang. Kata ini dilafalkan secara berbeda dalam dialek-dialek yang berbeda, misalnya “chá” dalam Mandarin dan Kanton, dan “te” dalam dialek-dialek Min, seperti Hokkien dan Teochew dan dialek di sepanjang pantai selatan Tiongkok. Kedua pelafalan ini menjadi dua cara penamaan teh dalam bahasa-bahasa lain di seluruh dunia.

Bangsa Belanda memainkan peranan penting dalam awal perdagangan teh di Eropa melalui VOC. Bangsa Belanda mengambil kata teh “thee” dari dialek Min, baik melalui pedagang Formosa (Taiwan) yang berbahasa Hokkien, maupun dari pedagang Banten di Jawa. Bangsa Belanda kemudian memperkenalkan pelafalan Min ini ke bahasa-bahasa Eropa lain, seperti Inggris “tea”, Perancis “thé”, Spanyol “té”, dan Jerman “tee”. Pelafalan ini adalah bentuk yang paling umum di seluruh dunia.

Bangsa Portugis mengambil dari pelafalan Bahasa Kanton “chá”, melalui pedagang di Guangzhou dan pelabuhan-pelabuhan Hong Kong dan Macau, dan menyebarkannya ke India. Namun, pelafalan “cha” dalam Bahasa Korea dan Jepang bukan berasal dari Bahasa Kanton, tapi merupakan pinjaman dari Bahasa Mandarin sejak masa awal sejarah Tiongkok.

Bentuk ketiga yang juga dipakai secara luas, “chai”, berasal dari Bahasa Persia چای [tʃɒːi] “chay”. Kedua bentuk “châ” dan “chây” yang ditemukan dalam kamus Persia, berasal dari pelafalan utara Mandarin yang disebarkan melalui jalan darat ke Asia Tengah dan Persia, di mana ia mendapat tambahan imbuhan –yi yang kemudian disebarkan ke Rusia sebagai чай ([tɕæj], “chay”), Arab شاي (dilafalkan “shay” [ʃæiː] karena ketiadaan bunyi /t͡ʃ/ dalam Bahasa Arab), Urdu چائے “chay”, Hindi चाय “chāy”, Turki “çay”, dll. Bahasa Inggris memakai ketiga bentuk ini: “cha” atau “char” (keduanya dilafalkan /tʃɑː/) dari abad ke-16; “tea” dari abad ke-17; dan “chai” dari abad ke-20. Namun bentuk “chai” merujuk secara spesifik pada teh hitam yang dicampuri gula atau madu, rempah dan susu dalam teh Inggris kontemporer.

Beberapa perkecualian penamaan teh yang tidak masuk ke dalam ketiga grup “te”, “cha”, dan “chai” adalah bahasa-bahasa minor di tempat asal tanaman teh: Myanmar tenggara dan Yunnan barat daya. Misalnya “la” (artinya teh yang dibeli di tempat lain) dan “miiem” (teh liar yang dikumpulkan di bukit) dalam Bahasa Wa, “letpet” dalam Bahasa Burma dan “meng” dalam Bahasa Lamet yang artinya daun teh yang difermentasi, serta “miang” dalam Bahasa Thailand (teh fermentasi).

Demam Teh Melanda Dunia

Teh diperkenalkan ke Eropa di awal abad ke-17. Pertama kali disebutkan dalam media cetak bahkan lebih awal dari itu, yaitu di tahun 1550, dalam Navigationi e Viaggi oleh Gian Battista Ramusio dari Venesia. Ia menamainya Chai Catai, atau teh dari China (Britannica 738). Kapal pertama yang membawa teh ke Eropa kemungkinan kapal Belanda, yang tiba sekitar 1610 dari Macau (Toussaint 597). Orang Inggris pertama yang menulis mengenai teh adalah R.L. Wickham dari Perusahaan Hindia Timur Britania di tahun 1615, dalam surat dari Jepang (Britannica 738). Sumber Rusia pertama menceritakan sebuah karavan membawa teh di tahun 1618 (Toussaint 601).

Teh pertama kali diimpor sebagai obat eksotis, kemudian dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman bagi gin, dan terakhir sebagai produk konsumsi massa (Schirokauer 388). Teh pertama kali dijual di London di Garway’s Coffee House di tahun 1657 (Britannica 738). Tak lama kemudian, Bendahara Kerajaan mulai memajaki teh (Toussaint 597). Alhasil, teh mengisi sepersepuluh dari pajak penghasilan Inggris, dan selanjutnya menjadi minuman nasional penting, baik secara budaya maupun politis. Inggris mengimpor 7.000 ton teh per tahun (Schirokauer 388). Konsumsi meningkat 200 lipat dari tahun 1700 hingga 1750, meski peningkatan ini hanya termasuk teh yang kena pajak. Penyelundupan merajalela, baik demi keuntungan maupun sebagai protes politis (Schivelbusch 79-80).

Protes yang lebih hebat terjadi di abad ke-18 ketika parlemen, guna membantu Perusahaan Hindia Timur Britania mengatasi masalah finansial, mengizinkan Perusahaan memotong jalur perantara Amerika dan menjual teh dalam jumlah besar langsung ke distributor Amerika. Huru-hara yang kemudian terjadi menimbulkan peristiwa Boston Tea Party yang memicu Revolusi Amerika, menandai awal dari akhir kontrol Britania atas Amerika (Palmer 341-42).

Belanda juga mengimpor teh dalam jumlah besar. Pada tahun 1770, impor teh Belanda dua per tiga sama banyak dengan impor teh Inggris (Toussaint 598). Selain Inggris, Belanda adalah satu-satunya negara Eropa Barat yang mengonsumsi teh secara populer (Ibid 597). Kapal Belanda bersaing cepat-cepatan dengan kapal Inggris membawa teh ke Eropa. Hal ini penting tidak hanya dari sudut unggul-unggulan tapi juga bagi kualitas teh. Semakin lama teh di jalan, semakin besar kemungkinan untuk rusak (Ibid 598). Hal ini memicu Inggris dan Belanda untuk memikirkan cara mengimpor teh lewat jalan darat melalui Rusia. Tapi tarif oleh Rusia menjadikan teh terlalu mahal maka rencana ditinggalkan (Ottuv 853).

Perbedaan paling menyolok antara perdagangan teh Eropa Barat dan Rusia adalah sarana transpornya. Teh Rusia dibawa dengan karavan. Catatan resmi paling awal tentang minum teh adalah di tahun 1638, oleh Tsar Mikhail Fyodorovich, Romanov yang pertama. Ia menerimanya sebagai hadiah dari seorang Khan Mongol. Di tahun 1679, perjanjian dagang diadakan antara Rusia dan China untuk mengatur perdagangan teh. Selanjutnya, jumlah teh yang diimpor dan dikonsumsi meningkat secara drastis (Bol’shaya 11). Karena teh yang dibawa dengan karavan sampai lebih cepat, alhasil rasanya lebih baik. Dictionnarie de Cuisine menyebut teh dari St. Petersburg dan Moskow sebagai teh yang paling enak (Toussaint 601).

Sebagai alternatif daripada membeli teh dari China, Inggris dan Belanda berusaha menanam sendiri teh mereka. Dalam kasus Inggris, teh menyebabkan ketimpangan perdagangan, di mana ekspor Inggris ke China hanya setara sepersepuluh ongkos teh yang diimpor (Schirokauer 389). Kemungkinan besar Belanda juga menderita hal yang sama. Setelah pertengahan abad ke-18, Rusia berhasil menembus pasar China dengan ekspor bulu berang-berang, sehingga mereka tidak mengalami ketimpangan perdagangan (Bobrick 220). Tapi Rusia tidak mampu memenuhi permintaan teh hanya melalui perdagangan karavan semata, dan terpaksa membeli teh dari kapal Inggris (Ottuv 852). Akhirnya Rusia juga mencoba menanam sendiri teh mereka.

Belanda menanam teh mereka di Indonesia. Pada tahun 1892, sebagian besar teh Belanda diimpor dari Jawa (Ottuv 852). Di tahun 1826, J.I.L.L Jacobson menyelundupkan tanaman teh dari China dan membangun perkebunan teh di Hindia Belanda (Britannica 738).

Rusia juga mulai menanam teh di koloni-koloninya. Di tahun 1814, N.A. Garvis berusaha menanam teh di Crimea tapi gagal. Di tahun 1847, di Ourgeti, kini Georgia barat daya, teh berhasil tumbuh. Tak lama kemudian, penanaman teh dimulai di wilayah-wilayah Rusia lain di Kaukasus (Bol’shaya 11).

Inggris memusatkan produksi tehnya di India. Di tahun 1823, teh didapatkan tumbuh di utara India, tapi Inggris tidak mengorganisasi penanaman teh hingga 1834 di bawah Gubernur Jenderal Lord William Henry Cavendish (Britannica 738). Pada tahun 1880-an, teh India telah menggusur teh China dari pasar Inggris (Ottuv 852). Tak lama setelah itu, teh India adalah teh yang paling populer di mana-mana, kecuali di Arab, yang terus membeli teh dari China (Toussaint 598). Keberhasilan Inggris disebabkan pemakaian pupuk yang lebih efisien dan eksploitasi buruh (Schirokauer 457).

Di tahun 1890 Sir Thomas Lipton tiba di pulau Ceylon (kini Sri Langka) dengan tujuan membeli tanah. 128 tahun kemudian, industri teh mempekerjakan 1 juta dari 22 juta penduduk.
Di subkontinen India, di Benggala Barat di kaki Himalaya, adalah asal dari teh tua Darjeeling yang dijuluki Sampagne-nya Teh. Menurut Jeff Koehler, penulis Darjeeling – The Colorful History and Precarious Fate of the World’s Greatest Tea, Darjeeling tetap menjadi tempat teh yang paling tenar di dunia, meski hanya 3.628 ton teh Darjeeling yang diproduksi dari 87 perkebunan teh di Himalaya.

Namun, lebih jauh di selatan khatulistiwa di Kenya-lah terletak industri perkebunan teh nasional yang sesungguhnya. Seluas hanya 582.000 km persegi, Kenya memiliki sekitar 198.000 hektar perkebunan teh, menghasilkan sekitar 480.000 ton teh per tahun. Dibawa ke Kenya di tahun 1903 oleh G.W.L. Caine, tanaman teh menjadi tanaman komersial 21 tahun kemudian oleh Malcolm Fyers Bell. Saat ini, Kenya telah melampaui India dan bahkan China – tempat asal teh – dalam industri teh. Produksi skala kecil dikendalikan melalui 66 pabrik menangani sekitar 500.000 petani skala kecil di atas 100.000 hektar perkebunan teh. Sebagian besar dilelang di kota pelabuhan Mombasa dan diekspor ke luar negeri untuk dicampur dengan varitas teh kualitas yang lebih rendah lain.

Saat ini sang raksasa Asia bangkit kembali, China menjadi pemain agresif dan garang dalam sektor teh, tapi masih harus bersaing dengan Kenya dan India yang merupakan bekas koloni-koloni Inggris.

Teh juga ditanam di bagian lain di dunia. Eksperimen di Afrika, Amerika Selatan, dan California dilakukan selama paruh akhir abad ke-19 (Ottuv 852). Di tahun 1890, teh ditanam secara singkat di California Selatan (Americana 341).

Selama bertahun-tahun teh merupakan komoditi yang mahal. Semasa abad ke-17 dan 18 teh hanya dikonsumsi oleh kalangan elit. Tapi popularitas teh meningkat dengan cepat. Peningkatan konsumsi gula di abad ke-18 mencerminkan peningkatan konsumsi teh. Gula juga awalnya cukup mahal. Tapi permintaan terus meningkat. Untuk memenuhi permintaan gula yang terus meningkat itu, perkebunan tebu besar-besaran dibuka di kepulauan Karibia. Teh menjadi tak terpisahkan dengan gula dan perkawinan teh dan gula menjadi hit, di atas keringat dan penderitaan tak terhingga budak-budak yang dibawa dari Afrika. Maka secara tidak langsung teh juga membawa kontribusi bagi perdagangan budak.

Perdagangan Segitiga Teh, Perak dan Opium

Di akhir abad ke-18 Inggris mengimpor 7.000 ton teh per tahun dari China. Bendahara Kerajaan mengenakan 100% pajak atas impor, mejadikan teh sumber pendapatan besar bagi negara.

Sementara impor teh menjadi penting, pembayarannya menjadi cukup problematis. China masih merupakan raksasa ekonomi dan produsen eksklusif komoditi-komoditi berharga seperti sutra, porselen dan teh, yang sangat diingini Inggris. Tapi sang Negara Tengah tidak tertarik dengan barang-barang dari Eropa, kecuali perak. Alhasil, sekitar 40% perputaran perak dunia mengalir ke China. Khususnya dalam bentuk ‘koin 8 real’, koin perak Spanyol yang terkenal – mata uang internasional yang paling dipercaya di zaman itu, biasanya dibuat dari perak Latino-Amerika.

Berangsur-angsur ‘koin 8 real’ menjadi sulit didapat karena Spanyol ingin membatasi sirkulasi hanya di dalam koloni-koloninya sendiri dan untuk membayar ongkos militernya yang besar. Inggris menderita ketimpangan perdagangan dengan China, mengimpor hampir tiga kali lipat lebih banyak daripada mengekspor. Di awal abad ke-19 Inggris mulai membuka perkebunan teh komersial di India dan Sri Langka (saat itu Ceylon), dengan tujuan memutus monopoli teh China. Tapi perkebunan opium di India terbukti lebih menguntungkan.

Opium adalah herba obat dalam pengobatan tradional China. Gunanya adalah untuk mengurangi rasa sakit, membantu tidur, dan mengurangi stress, sayangnya sangat mencandu. Walau kapas India juga laku di China, tapi demam opium nasional menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Lagipula, opium India lebih baik kualitasnya daripada opium Turki.

Setelah Perang Buxar (1764) di India, Perusahaan Hindia Timur Britania memperoleh akses ke ladang-ladang opium di Lembah Gangga dan mendapat hak monopoli dari Kerajaan Inggris. Banyak opium India dikirim ke China dan dipopulerkan dengan berbagai cara. Puluhan ribu peti opium dikapalkan tiap tahun. Pada Desember 1799 pemerintah China mengeluarkan larangan atas opium. Mereka mendapati kecanduan opium melanda masyarakat dan kerusakan atas bangsa sangat hebat. Maka Perusahaan Hindia Timur Britania melelang opium mereka ke pedagang-pedagang partikulir (kebanyakan orang Inggris).

Opium dalam jumlah besar kemudian dijual melalui penyelundup, bajak laut dan pejabat korup China, dengan tuntutan pembayaran kembali dalam bentuk perak. Umumnya pedagang mendepositokon perak ke pabrik milik Perusahaan Hindia Timur Britania di China, nota penyetoran kemudian dapat diuangkan di Kalkuta atau London. Perusahaan mendapat keuntungan dari komisi atas nota itu. Kemudian Perusahaan memakai perak hasil penjualan opium untuk membeli teh dan produk lain. Opium menjadi barang ekspor Perusahaan yang paling besar dan membukukan 15% dari penghasilannya dari India. Pada tahun 1839, penjualan opium ke China membayarkan semua ongkos dari pembelian teh.

Inggris menuai keuntungan besar dan memiliki simpanan logam mulia, yang membantu industri dan pertumbuhan imperialismenya. Penghasilan Inggris atas penjualan teh juga besar. Di lain pihak, krisis opium menjadi tak tertahankan di China. Opium yang diperjual-belikan di China menyebabkan kehancuran sosial, di beberapa daerah pantai bahkan hingga 90% orang kecanduan opium. Hal ini membawa pada Perang Opium di tahun 1839-42 dan 1859-60, keduanya dimenangkan Inggris.

Perjanjian Nanjing memaksa China menerima penjualan opium tanpa batas (yang segera naik empat kali lipat), membayar ganti rugi besar, dan menyerahkan pulau Hong Kong. Sejak itu Kekaisaran China merosot jatuh. Kekalahan perang menyebabkan puluhan tahun kerusuhan, diwarnai bencana kelaparan, pemberontakan dan konflik bersenjata. Jumlah orang yang mati, kehancuran dan penderitaan manusia sulit untuk dihitung.

Pada permulaan abad ke-20, Inggris telah menjadi pedagang narkoba terbesar yang pernah dikenal dunia, dan China menderita masalah kecanduan terbesar yang pernah dialami negara mana pun. Menurut catatan resmi di tahun 1906, 23,3% pria dewasa di China kecanduan opium. Memerlukan waktu puluhan tahun dan daya upaya luar biasa bagi pemerintah China untuk mengatasi kecanduan opium rakyatnya.

Perang Opium, Konflik Berdarah yang Menghacurkan Kekaisaran China

Wilayah Dinasti Qing, yang didirikan oleh Manchuria di tahun 1644, mencapai hingga jauh ke Tibet, Taiwan dan Uyghur. Tapi Qing menutup dan mengasingkan diri ke dalam, menolak menerima duta-duta Barat karena mereka tidak bersedia mengakui supremasi Dinasti Qing di atas kepala negara mereka.

Orang-orang asing – bahkan di atas kapal dagang – dilarang masuk ke dalam wilayah Tiongkok, kecuali di Kanton, wilayah tenggara di pusat Provinsi Guangdong masa kini, yang menghubungkan Hong Kong dan Macau. Orang-orang asing hanya diizinkan melakukan perdagangan dengan distrik Tiga Belas Pabrik atau ’13 hong’ di kota Guangzhou, dengan pembayaran hanya dalam bentuk perak.

Inggris memberi Perusahaan Hindia Timur Britania monopoli atas perdagangan dengan China, dan segera kapal-kapal yang berbasis di India membeli teh dan porselen dengan pembayaran perak. Tapi Inggris memiliki pasokan perak yang terbatas.

Pada pertengahan tahun 1700-an, Inggris mulai menukarkan opium yang tumbuh di India dengan perak dari pedagang-pedagang China. Opium – obat candu yang sekarang diproses menjadi heroin – dilarang di Inggris tapi dipakai dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Walaupun demikian pemakaian untuk rekreasi dilarang dan tidak banyak. Hal ini berubah setelah Inggris mulai mengirim berton-ton obat ini dengan memanfaatkan celah-celah komersial dan penyelundupan besar-besaran untuk mengakali larangan.

Pejabat-pejabat korup China turut serta dalam persekongkolan dengan penyelundup-penyelundup. Kapal-kapal Amerika yang membawa opium dari Turki turut bergabung dalam pesta penyelundupan narkoba di awal tahun 1800-an. Pengkonsumsian opium di China meroket, demikian juga keuntungannya.

Kaisar Daoguang menjadi waspada saat jutaan rakyat menjadi pecandu obat – dan perak-perak mengalir keluar dari China. Di tahun 1839, Komisi Kerajaan yang baru diangkat, Lin Zexu, mengeluarkan peraturan pelarangan opium di seluruh Tiongkok. Ia menangkap 1.700 penjual dan menyita berkrat-krat opium yang berada di pelabuhan Tiongkok dan bahkan yang masih ada di kapal-kapal di perairan. Ia kemudian menyuruh menghancurkan semua opium. Sekitar 1.180 ton opium dibuang ke laut. Lin bahkan menulis elegi permintaan maaf pada dewi laut atas pencemaran laut.

Pedagang-pedagang Inggris yang marah meminta kompensasi pada pemerintah Inggris atas kerugian, tapi Bendahara Kerajaan tak mampu membayar. Hanya perang yang dapat menyelesaikan hutang.

Tujuh bulan kemudian, ekspedisi 44 kapal Inggris dengan kekuatan penuh melancarkan serangan atas Kanton. Inggris memiliki kapal-kapal uap, kanon-kanon berat, roket-roket dan infantri bersenjatakan senapan-senapan dengan kemampuan tembak jarak jauh. Pasukan kerajaan Tiongkok – Pasukan Bendera – masih bersenjatakan senapan api dengan jangkauan hanya 45 m dan kapasitas tembak satu putaran per menit.

Kapal perang China yang ketinggalan zaman dengan cepat dihancurkan oleh Angkatan Laut Inggris. Kapal-kapal Inggris berlayar sampai Zhujiang dan Sungai Yangtze, menduduki Shanghai dan merebut tongkang-tongkang pengumpulan pajak, hingga mempersulit keuangan pemerintah Qing. Tentara China menderita kekalahan demi kekalahan.

Ketika Qing mengajukan perdamaian di tahun 1842, Inggris dapat memaksakan ketentuan-ketentuan mereka. Perjanjian Nanjing menetapkan Hong Kong menjadi teritorium Inggris, dan China harus membuka lima pelabuhan lain (Canton, Ziamen, Fuzhou, Ningbo, dan Shanghai) di mana pedagang-pedagang Inggris boleh menjual apa pun dengan siapa pun.

Imperialisme merebak di pertengahan 1800-an. Perancis ikut-ikutan dalam bisnis di pelabuhan-pelabuhan. Segera Inggris menuntut konsesi lebih banyak dari China – perdagangan tanpa batas di pelabuhan mana pun, mendirikan kedutaan di Beijing dan pencabutan pelarangan opium di Tiongkok.

Salah satu taktik yang digunakan Inggris untuk memperluas pengaruh mereka adalah dengan mendaftarkan kapal-kapal pedagang China yang berurusan dagang dengan mereka sebagai kapal-kapal Inggris. Pada Oktober 1856, pemerintah China menangkap sebuah kapal bajak laut dengan registrasi Inggris yang sudah kadaluarsa. Kapten kapal melapor pada wewenang Inggris bahwa polisi China telah menurunkan bendara dari kapal Inggris.

Inggris menuntut pemerintah China melepaskan awak kapal. Ketika hanya 9 dari 14 awak yang dikembalikan, Inggris mulai membomi pelabuhan-pelabuhan di sekitar Kanton dan akhirnya meledakkan tembok kota.

China tak mampu memberi perlawanan, sebab saat itu China sedang dilanda Pemberontakan Taiping yang menghancurkan, pemberontakan petani yang dipimpin oleh seorang peserta ujian negara yang gagal yang menyatakan diri sebagai adik Yesus Kristus. Pemberontak berhasil menguasai banyak wilayah kerajaan dan hampir merebut Beijing.

Angkatan Laut Inggris terus menyerang China, menenggelamkan 23 jung dalam pembukaan pertempuran dekat Hong Kong dan merebut Guangzhou. Tiga tahun kemudian, kapal-kapal Inggris berhasil menembus masuk ke sungai-sungai atas, merebut banyak benteng melalui kombinasi bombardemen dari laut dan serangan amfibi.

Perancis ikut terjun dalam peperangan – dalih mereka adalah pengeksekusian seorang misionaris Perancis yang melanggar larangan atas orang asing di provinsi Guangxi. Bahkan Amerika turut serta secara singkat setelah China menembak kapal Amerika yang mengangkut opium.

Dalam Pertempuran Benteng Sungai Mutiara, Angkatan Laut Amerika berkekuatan 3 kapal dan 287 kelasi dan marinir merebut empat benteng, menyita 176 kanon dan memukul 3.000 infantri China. Secara resmi Amerika tetap netral.
Rusia tidak turut serta dalam pertempuran, tapi mengambil keuntungan dari perang untuk memaksa China melepaskan sebagian besar wilayahnya di timur laut, termasuk Vladivostok masa kini.

Ketika perjanjian perdamaian diadakan di tahun 1858, ketentuan-ketentuan yang diajukan semakin merugikan bagi pemerintah Dinasti Qing. Sepuluh kota lain dipaksa membuka pelabuhannya, orang-orang asing mendapat akses bebas ke sungai Yangtze dan China daratan, dan Beijing membuka kedutaan bagi Inggris, Perancis dan Rusia.

Kaisar Xianfeng awalnya menyetujui perjanjian, tapi kemudian berubah pikiran, ia mengirim jenderal Mongol Sengge Rinchen untuk mempertahankan Benteng Taku di perairan menuju Beijing. China menggagalkan usaha Inggris merebut benteng di Juni 1859, menenggelamkan empat kapal Inggris. Setahun kemudian, serangan darat oleh 11.000 pasukan Inggris dan 6.700 Perancis mengalahkan China.

Ketika misi diplomatik Inggris datang untuk memaksa China menaati perjanjian, China menyandera utusan dan menyiksa banyak delegasi hingga mati. Komisaris Tinggi Inggris Urusan China, Lord Elgar, mengirim pasukan ke Beijing.
Senapan-senapan Inggris dan Perancis membunuh 1.000 pasukan kavaleri Mongol dalam Pertempuran Palikao, meninggalkan Beijing tanpa pertahanan. Kaisar Xianfeng kabur. Untuk melukai ‘harga diri dan perasaan’ Kaisar — kata-kata yang diucapkan Lord Elgar, Inggris dan Perancis menjarah dan menghancurkan Istana Musim Panas yang bersejarah.

Perjanjian yang baru memaksa China melegalisasi agama Kristen dan opium, dan menambahkan Tianjin – kota besar dekat Beijing – dalam daftar pelabuhan yang dibuka, mengizinkan kapal-kapal Inggris mengirim buruh-buruh kontrak China ke Amerika, dan mendenda pemerintah Tiongkok 8 juta perak sebagai ganti rugi.

Kehadiran bangsa Barat di China semakin banyak dan sangat tidak disukai, sehingga pemberontakan anti Barat meledak, Pemberontakan Boxer pecah di tahun 1899. Dinasti Qing yang malang, di bawah kepengurusan Ibusuri Cixi, awalnya berusaha memadamkan pemberontak sebelum akhirnya mendukungnya – tepat pada saat kekuatan militer multi nasional yang terdiri dari 8 aliansi, Amerika, Rusia, Jerman, Austria, Italia, Perancis, Jepang dan Inggris, tiba dan menghancurkan pemberontakan. Selama setahun penuh Beijing, Tianjin dan sekitarnya dijarah sebagai pembalasan dendam.

Perang opium menuntun pada runtuhnya Dinasti Qing yang telah memerintah selama dua abad. Hal ini meyakinkan China bahwa mereka harus modernisasi dan mengadakan industrialisasi.

Hari ini Perang Opium diajarkan di sekolah-sekolah Tiongkok sebagai awal dari ‘Abad Peghinaan’ oleh imperialis Barat yang rakus dan memiliki teknologi yang lebih unggul – akhir dari abad itu tiba di tahun 1949 dengan penyatuan China di bawah Mao.

Perang Opium menyadarkan China bahwa mereka jauh tertinggal dari barat – tidak hanya secara militer, tapi juga secara ekonomi dan politik. Tiap pemerintahan China sejak saat itu – bahkan sejak Dinasti Qing yang bernasib buruk, telah memulai ‘Gerakan Memperkuat Diri setelah Perang Opium kedua – menjadikan modernisasi sebagai tujuan utama, guna mengejar ketinggalan dari Barat.

Jepang yang mengamati peristiwa-peristiwa di China, turut mengadakan gerakan modernisasi yang bahkan lebih cepat daripada China dengan Restorasi Meiji.

Sepanjang sejarah China, ancaman utama datang dari suku-suku nomadik penunggang kuda di sepanjang perbatasan utara. Tapi Perang Opium – dan bahkan yang lebih parah, invasi Jepang di tahun 1937 – menunjukkan betapa Angkatan Laut China di sepanjang pantai Pasifik sangat lemah.

Ekspansi agresif China di Laut China Selatan saat ini dapat dipandang sebagai aksi dari sebuah negara yang pernah berkali-kali kalah oleh invasi laut – dan ambisi membuktikan dominasinya di Pasifik di abad 21.

Pengalaman China dengan opium juga menuntun China untuk mengadopsi kebijakan anti narkoba yang keras dengan hukuman mati dijatuhkan bahkan atas dealer tingkat menengah. Walau perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisasi masih tetap menjadi masalah di China.

Untuk membina hubungan baik dengan China, kita perlu memahami bagaimana kebijakan luar negeri China terbentuk dari pengalaman pahit masa lalu mereka dengan Barat.
Semua gara-gara teh.

Ditulis oleh Nonik Dahlia

Referensi:

https://www.theelephant.info/culture/2019/03/02/the-dark-and-devious-history-of-tea-the-beverage-that-floated-empires/?fbclid=IwAR00iczEdDGn4jMTsJMh2Uh2hJbGNr7TczopKoUOK64i0J3czMIaAK02NMU
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_tea_in_China?fbclid=IwAR2ETpyIpB5kdygg732An1rI4euJbt8251JpIuerkDwMO4pR7wBYEPLiyZQ
https://en.wikipedia.org/wiki/Tea
https://en.wikipedia.org/wiki/Tea?fbclid=IwAR2FQqu-150_Ad7BLoFb-xe2SXemrw5-7ghQG8ZSkouzcTT0Lg8j-rhV66Q
https://www.lib.umn.edu/bell/tradeproducts/tea?fbclid=IwAR3mmjOr1mnnzK4x15ZRUiTCe_YY_hlwm7XOPFK5_PR1d8mIzTJeKsMSxDI
https://www.theelephant.info/culture/2019/03/02/the-dark-and-devious-history-of-tea-the-beverage-that-floated-empires/?fbclid=IwAR1MnHpdnwyuBc6kHX-XSklszpyk29Yt9cCcxOS4-ayi_uOoKdRTWu_1r7k
https://www.bl.uk/learning/online-resources
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_opium_in_China?fbclid=IwAR0Ce4gnqZkt2Wp8y-Z2qK_wKPGmGZdGK57MS3UADr04cCxfIq3x9fF1_oc
https://www.dnaindia.com/analysis/column-triangular-trade-of-tea-sugar-and-opium-2739311?fbclid=IwAR2SzfBP3V5ldIpgAnWtLqS–RBl8PXaIKon-Z2NQv7KQA1u3XNG3MUnVsU
https://nationalinterest.org/blog/the-buzz/opium-wars-the-bloody-conflicts-destroyed-imperial-china-24915?fbclid=IwAR0VNf9JP0YGRRj-reG0em8ZIEwi9SLZNBKjEwDbABvqdycNowmV_iZaovc

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s