Burung Ini terbang hampir setahun tanpa mendarat

Di film drama Xianxia sering disinggung tentang sejenis burung yang terus terbang dari lahir hingga mati, tanpa sekalipun menginjak tanah. Mungkin kita semua akan mengira pada sejenis burung fantasi yang keluar dari tongkat sihir Harry Potter setelah pelafalan mantra Avis. Ternyata dugaan itu keliru. Burung tersebut benar-benar ada dan eksis di dunia, yakni burung Common Swift (Apus apus), sejenis burung layang-layang yang mirip walet.  Pencatat data menunjukkan bahwa mereka hampir tidak pernah menyentuh tanah pada migrasi mereka dari Eropa ke Afrika dan kembali lagi.

Nama ilmiahnya Apus adalah bahasa Latin untuk burung layang-layang, yang dianggap oleh orang-orang kuno sebagai sejenis burung layang-layang tanpa kaki (dari α Yunani Kuno, a, „tanpa“, dan πούς, pous, „kaki“). “Mereka makan di udara, mereka kawin di udara, mereka mendapatkan bahan sarang di udara,” kata Susanne kesson dari Universitas Lund di Swedia. “Mereka bisa mendarat di kotak sarang, cabang, atau rumah, tetapi mereka tidak bisa benar-benar mendarat di tanah.” Itu karena sayap mereka terlalu panjang dan kaki mereka terlalu pendek untuk lepas landas dari permukaan yang datar. 

Penerbangan nonstop yang begitu lama menyiratkan bahwa burung Swift ini harus bisa tidur saat terbang. Niels Rattenborg dari Max Planck Institute for Ornithology di Jerman membuktikan bahwa burung fregat—burung laut besar dengan kecenderungan membajak—melakukan hal yang sama. Dia memasang sensor gelombang otak ke 15 burung fregat dan menunjukkan bahwa mereka tidur di tengah penerbangan, selama sekitar 40 menit sehari dan hanya beberapa detik setiap kalinya. Mungkin mereka melakukan apa yang dilakukan lumba-lumba, mengirimkan setengah dari otak mereka untuk tidur pada suatu waktu sehingga mereka dapat tetap waspada.  

Burung Swifts ini masih mempunyai saudara dekat, yakni Apus apus pekinensis (Swinhoe, 1870), yang biasanya disebut Beijing Swifts. Perbedaan dengan saudara Eropanya, antara lain: selain warna bulunya yang lebih kecoklatan, juga warna bulu putih di bagian tenggorokan lebih putih dan lebar. Jadi tidak heran, meskipun kedua subspesies itu bertemu satu sama lain selama migrasi musim dingin di Gurun Kalahari (Afrika Selatan) dan saling bertukar salam Nǐ hǎo ma? – How are you?, tetapi setelah itu kembali ke kediaman masing-masing, satu ke Eropa Tengah dan satu lainnya ke Tiongkok Utara. Yang tidak jelas adalah, apakah diantara burung betina Beijing Swift, ada yg selingkuh dan kembali ke Tiongkok dengan benih blasteran Swift Eropa?

Kesimpulan:

Jadi yang dimaksud film drama Xianxia dengan „sejenis burung yang terus terbang dari lahir hingga mati, tanpa sekalipun menginjak tanah.“ kemungkinan besarnya adalah burung Beijing Swifts alias Apus apus pekinensis. ~ aldithe

Sebagian dicuplik dan diterjemahkan dari : Wikipedia Jerman dan National Geographic

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s