Bab 13 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaYun menyusun rencana menangkap pasangan gelap

Setelah dipukul babak belur oleh ibu Wang, Yun pergi mencari Wu Dalang. Di Jalan ia bertemu dengannya dan menceritakan semua kejadian yang ia dengar dan ia alami. Kemudian keduanya membuat rencana untuk menangkap basah perbuatan selingkuh Teratai Emas dengan Ximen. Sesuai rencana, pada keesokan paginya, Yun mendatangi kedai teh lagi, langsung bertengkar dengan ibu Wang, dan Wu Dalang menggunakan kesempatan tersebut untuk menerobos masuk ke dalam.

Namun apa daya, pada saat yang sama, Ximen  membuka pintu kamar dan memukul si kerdil Wu Dalang ke perutnya, sehingga ia jatuh terguling,  mengerang kesakitan. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Yun kabur, angkat kaki seribu. Ibu Wang memeriksa luka Wu Dalang, mukanya pucat bagai kertas dan dari mulutnya mengalir darah segar. Cepat diangkatnya lewat pintu belakang dan diletakkan di kamar Wu Dalang di lantai atas.

Karena tidak terjadi apa-apa, pada keesokan harinya kedua kekasih kasmaran sudah mengadakan pertemuan lagi seperti biasa. Ibu Wang mengharap, bahwa Wu Dalang akan meninggal dengan sendirinya. Lelaki malang itu rebah di tempat tidurnya sudah lima hari lima malam, tanpa mendapat makan dan minum, istrinya tidak memedulikan panggilannya. Tetapi ia harus menyaksikan bagaimana istrinya setiap hari menghias diri sebelum pergi dan melihat pipi istrinya kemerah-merahan setiap kali pulang.

Si kecil Ying’rl, yang putri Wu Dalang dari perkawinan sebelumnya, tidak berani mendekat apalagi memberi makan. Ia sudah terlalu takut pada Teratai Emas yang selalu menyiksanya. Jadi ia tak dapat merawat ayahnya yang berkali kali jatuh pingsan.

Suatu hari Wu Dalang memanggil Teratai Emas ke kamarnya. „Kau telah berselingkuh, dan kekasihmu telah memukul perutku, sehingga aku sekarang antara hidup dan mati, tentu kau merasa senang, tetapi ingatkah engkau akan adikku? Kau tahu temperamennya yang keras? Cepat atau lambat ia akan datang, kemudianÖ   Engkau mempunyai dua pilihan, menolongku hingga sehat kembali, dan aku tak akan menceritakan apa-apa padanya atau bila kau tetap seperti sekarang, maka ia harus mengetahuinya.“

Teratai Emas tidak menjawab, ia pergi menemui ibu Wang di kedai teh untuk meminta nasihatnya. Ximen  yang berada di situ saking ketakutan sampai bulu tengkuknya berdiri.“Sial!, aku tidak lupa pada si pembunuh harimau Wu Song“ katanya kepada Teratai Emas. „Tapi aku sudah lama mencintaimu, aku merasa dekat denganmu, tidak dapat aku melepaskanmu, Mana jalan keluarnya!“

„Aku punya jalan keluar, tergantung apakah kalian ingin berhubungan tetap atau sewaktu-waktu“ jawab ibu Wang.

„Maksudmu?“

„Misalnya kalian berdua bisa untuk sementara, biarkan Wu Dalang sembuh dari lukanya, dan bicara baik-baik dengannya, sehingga ia tak akan menceritakan kejadian ini pada adiknya. Tunggu sampai  adiknya mendapat tugas lagi, dan kalian bisa berhubungan lagi. Itu namanya berhubungan menurut waktu. Bila kalian ingin berhubungan tetap, setiap hari bertemu dan berani mengambil semua risikonya, aku punya rencananya, walau pun sulit untuk mengatakannya.“

„Ibu angkat, uruslah kami, seperti induk ayam kepada anaknya. tentu saja kami ingin hubungan tetap“

„Untuk itu aku perlu sesuatu yang tak akan aku peroleh di tempat lain kecuali di toko obatmu, tuan besar. Si kerdil sekarang sedang sakit parah, itu bisa digunakan oleh Teratai Emas untuk memberinya obat yang dicampur racun dari toko obatmu. Jasadnya akan diperabukan, sehingga tidak meninggalkan bekas. Setelah itu biar saja adiknya datang“

„Setuju!“ jawab Ximen.

„Usahakan secepatnya obat-obat yang dibutuhkan. Nanti bagaimana mengerjakannya, akan kuajari pada Teratai Emas. Dan jangan lupa nanti akan hadiah besar.

„Beres!“

Tidak lama kemudian Ximen  menyerahkan sebungkus racun pada ibu Wang. Kemudian ibu Wang berkata pada Teratai Emas: „Bila nanti Wu Dalang minta obat, campurkan satu dosis racun dan minumkan padanya. Kalau ada masalah, kau tinggal memukul dinding kamar, maka aku akan datang membantu.“

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s