Part 5 – Sampek Engtay (Liang Shanbo dan Zhu Yingtai; The Butterfly Lovers)

aldisurjana_sampek_engtay_lian_shanbo_zhu_yingtai_the_butterfly_lovers

 

Kematian

Ketika Liang Shanbo masuk dengan hati yang dipenuhi keceriaan, Zhu Yingtai mendongakkan kepala dan menyapanya,”Kakak Liang!” Walaupun mata Yingtai berkaca-kaca, Shanbo menduga hal ini disebabkan karena ia merasa terlalu bahagia. Shanbo berkata,”Saya dulu memanggil kamu adik laki-laki, sekarang saya harus memanggil kamu apa?” Yingtai berkata,”Dulu saya berdandan seperti laki-laki, sedangkan sekarang saya mengenakan pakaian wanita. Sekarang tentu kita harus memanggil dengan sebutan kakak dan adik perempuan.” Lalu Shanbo memanggilnya dengan sebutan adik perempuan dengan penuh kekeluargaan.

Dengan gembira Shanbo memberitahukan bahwa maksud kedatangannya adalah khusus untuk melamar Yingtai. Melihat Shanbo begitu mengibakan hati, perasaannya terluka. Yingtai menghela nafas panjang dan tak berkata apapun. Melihat hal ini Shanbo merasa aneh dan ia bertanya,”Mengapa adik tidak terlihat gembira.” Air mata mengalir tak tertahankan, Yingtai menjawab,”Ada hal yang membuat saya bersedih…” Shanbo bertanya, “Adakah hal yang harus disembunyikan di antara kita?” Yingtai dengan gemas berkata,”Kak Liang, kamu terlambat. Ayah telah menjodohkan saya dengan orang lain.” Kata-kata ini bagai petir menyambar di siang bolong, Shanbo merasa sangat terguncang, sehingga setelah beberapa saat baru sanggup mengucapkan sepatah kata,”Bagaimana kamu sanggup melupakan perasaan kita sebelumnya.” Yingtai memberitahukan bahwa hal ini merupakan perintah ayah yang sulit ditentang. Shanbo lalu menyerahkan sebuah bandulan kipas kepada Yingtai dan di hadapannya berkata,”Benda ini adalah peninggalan kamu, masa sih ini tidak berarti sama sekali.” Yingtai menjawab,”Ayah saya telah menerima hadiah pertunangan keluarga Ma, sudah sejauh ini benda apapun tak ada gunanya.” Lalu Shanbo berkata “Kalian keluarga Zhu benar-benar tidak bisa dipercaya, saya akan menuntut kalian.” Yingtai bertanya,”Menuntut siapa?” Shanbo menjawab,”Saya akan menuntut ayah kamu, Ma Wencai, dan kamu sendiri.” Yingtai berseru,”Jangan pernah melakukan hal itu, keluarga Ma adalah penguasa daerah, kamu akan kalah, lupakanlah saya dan menikahlah dengan orang lain.” Shanbo menjawab,”Peri khayangan sekalipun, saya tetap tak cinta.”

Yinxin menyajikan makanan dan minuman, Yingtai berkata,”Kak Liang, kamu telah datang kesini, tapi saya tak menghibur anda. Saya suguhkan makanan buat anda sebagai ungkapan perasaan hati saya.”

Shanbo mengingat kembali cinta dirinya dengan Yingtai selama 3 tahun yang saling menyayangi dan menghormati….. Dulu ketika mengantar Yingtai pulang ke rumah, ia tidak memahami berbagai isyarat yang dibuat oleh Yingtai. Sekarang di saat ia khusus datang untuk melamar, sudah terlambat. Ia adalah seorang cendikiawan miskin, pasti tak mampu bersaing dengan orang yang begitu kaya dan berkuasa seperti Ma Wencai. Kesedihan dan kemarahan yang memenuhi pikirannya tak dapat diungkapkan….. ia mengambil cawan arak dan mulai meneguknya.

Ketika arak memasuki tubuhnya, perasaannya semakin bersedih, ia terbatuk-batuk dan muntah darah. Menyaksikan hal ini Yingtai memapah Shanbo, ia menangis sedih,”Kak Liang, saya telah mencelakai kamu, janganlah merasa sedih.” Sambil memegangi tangan Yingtai, Shanbo berkata,”Adik, sejak kita berpisah setiap saat saya merindukan kamu, tak dapat makan maupun tidur. Saya merasa sangat senang, ketika mengetahui bahwa kamu sendiri memilih jodoh untuk dirimu sendiri. Tetapi hari ini saya menemukan kamu berubah, mana mungkin saya tidak bersedih?” Yingtai berkata, “Saya tahu niat baikmu, saya juga merindukan kamu. Ketika pulang ke rumah, saya tak mampu mengerjakan apapun, ketika sedang menyulam malah lupa benangnya, dan ketika membaca buku teringat padamu. Sejak ayah menjodohkan saya, saya hidup dalam kesedihan.” Shanbo berkata,”Asalkan kamu di samping saya, saya rela hidup tanpa kemewahan dan jabatan, tapi hari ini segalanya menjadi impian kosong.” Selesai berkata-kata ia bangkit dan berlalu. Yingtai mencegahnya pergi dan berkata,”Kamu pergi dalam keadaan begini.” Shanbo berkata dengan penuh kebencian,”Apakah saya harus mati disini?” Yingtai merasa sedih bagaikan diiris sembilu, ia menangis dan sambil berlutut di kaki Shanbo, ia berkata,”Hari ini kita akan berpisah, tapi walaupun demikian hati kita tak akan berpisah, hati saya milikmu selamanya.”

Sesampainya di rumah, Shanbo jatuh sakit terbaring di ranjang, tak makan dan minum. Dalam mimpinya sering menyebut nama Yingtai, dari hari ke hari penyakitnya bertambah parah. Ia menyadari hidupnya tak lama lagi. Karena selalu diburu pertanyaan oleh orang tuanya, ia memberitahukan keadaan sebenarnya kepada mereka. Ia berharap dapat menjumpai Yingtai sebelum kematiannya. Ibunya dengan berlinang air mata terpaksa pergi ke rumah keluarga Zhu untuk memberi kabar pada Yingtai.

Tetapi ibunya hanya dapat membawa pulang bingkisan kecil pemberian Yingtai, dan memberitahukan anaknya bahwa keluarga Zhu tak mengizinkan Yingtai untuk datang. Shanbo membuka bungkusan itu, di dalamnya terdapat puisi-puisi yang dibuat oleh Yingtai untuk dipersembahkan kepadanya, serta terdapat segumpal rambut Yingtai. Melihat benda-benda ini hatinya terasa sakit dan ia muntah darah lagi. Ia memberitahukan orang tuanya bahwa ia akan mati, dan berpesan agar makamnya terletak di antara jalan yang harus dilalui dari kediaman keluarga Ma, sehingga dari situ ia dapat melihat tandu pengantin Yingtai lewat. Selesai mengatakan hal ini nafasnya terputus, tangannya masih menggenggam rambut dan puisi Yingtai.

Setelah Yingtai mendengar berita kematian Shanbo, ia sangat bersedih hati siang dan malam, hingga air matanya telah kering, suara parau, sepanjang hari hanya duduk termenung saja, dan tak berbicara sepatah katapun. Karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Tuan Zhu mengusulkan agar memajukan hari pernikahan.

Bersambung ke part 6

By Richard; https://aldisurjana.wordpress.com/

 

Werbeanzeigen

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s