Bab 4 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaDengan hati dingin Wu Song menemui istri kakaknya

Namun kenikmatan cinta rahasia yang sekejap itu harus dibayar mahal dengan 5 macam hukuman. Karena kemudian ia pertama menderita sakit pinggang, kedua menderita mata berair, ketiga menderita kuping berdenging, keempat menderita hidung tersumbat, dan kelima gangguan kantung kencing. Tentu saja sebab musabab penyakit itu tak dapat menutupi mata istri galak itu, dan terjadi pertengkaran suami istri, dan Teratai Emas  pun mendapat makian dan pukulan

Tuan Chang merasa sangat tertekan, dan memutuskan untuk menikahkan Teratai Emas dengan lelaki lain. Pakaian pengantin wanita ia yang akan menanggung. Seorang pelayan mengusulkan Wu Dalang sebagai pasangan yang cocok. Tuan Chang menerima usul tersebut dengan senang, karena ia berpikir, bahwa ia masih ada kemungkinan untuk mengunjungi Teratai Emas secara diam-diam. Si beruntung Wu Dalang tak perlu membayar sepeser pun, ia memperoleh istri dengan gratis.

Dan setelah pernikahan, tuan Chang tak mengenal lelah mengurus kedua pasangan muda itu, dan membantu Wu Dalang bila sewaktu waktu kekurangan uang. Dan bila Wu Dalang sedang ke luar rumah berjualan kue di jalan, maka secara diam-diam „Tuan penolong“ itu akan menyelinap, memasuki kamar dan bercinta dengan Teratai Emas. Meskipun sesekali Wu Dalang memergoki, tetapi ia diam saja, karena ia merasa hanya sebuah barang di tangan . Kejadian itu terus berlangsung, hingga suatu hari tuan Chang meninggal kena penyakit gangguan kantung kencing yang parah.

Istri tuan Chang yang belakangan mengetahui sebab kematian suaminya, menjadi berang dan mengusir kedua suami istri tersebut. Setelah diusir oleh nyonya Chang, Wu Dalang harus mencari tempat tinggal baru. Untunglah ia mendapat tempat sewaan baru di rumah keluarga Wang di sebelah barat jalan raya. Seperti biasa ia menyusuri jalan-jalan di kota dengan pikulan mencari sesuap nasi.

Wu Dalang tahu bahwa sebagai suami melarat, ia dianggap sangat rendah oleh istrinya. Istrinya sering mengajak bertengkar atau melepaskan kemarahan dengan menyumpahi . „Mengapa Chang tua, dari sekian banyak pemuda gagah di dunia, justru menikahkan aku dengan seorang setan cebol tak berguna, yang rela menerima pukulan tanpa dapat membalas dan langsung mabuk berat hanya dengan sedikit arak, tidak bisa sadar kembali walau disiram berember-ember air!  Kesalahan apa yang pernah kulakukan dalam kehidupan yang terdahulu sehingga aku di hukum dalam perkawinan ini!“ Atau malah bila ia sedang sendiri, ia melantunkan lagu sedih „anak domba tersesat di dalam jurang.“ Sudah barang tentu, seorang wanita cantik membutuhkan seorang teman kencan gagah untuk pelampiasan hasrat.

Wu Dalang, meskipun sangat direndahkan oleh istrinya, tetap berusaha menjadi suami yang baik. Di pagi hari Teratai Emas tidak sabar menunggu suaminya pergi menjajahkan dagangan dan setelah itu ia menikmati kesendirian sehari penuh. Ia menyandarkan diri ke jendela dan mempertontonkan kecantikan. Adalah kesenangan tersendiri, membuat diri diperhatikan oleh para lelaki yang berlalu lalang di jalan.

Tidak berapa lama tercapailah apa yang di ingini, setiap hari di bawah jendela kamar dipenuhi lelaki pengagum, bahkan ada meneriakkan kata-kata ungkapan cinta. Begitulah, dan masih banyak lagi kata-kata yang hampir mirip mengalir lewat bibir-bibir pemuda pengagum. Sudah tentu hal tersebut sampai ke telinga Wu Dalang. Ia memutuskan untuk tidak tinggal lebih lama di rumah itu. Suatu hari ia membicarakan perihal pindah rumah pada istrinya.

„Engkau mau cari tempat tinggal yang lebih murah lagi, apakah kau tidak takut ditertawakan orang banyak? Bila kau mau pindah rumah, carilah uang agar kita bisa mendapat rumah kecil yang lumayan!“

„Dari mana uang sebanyak itu bisa aku peroleh?“

„Dasar lelaki tak berguna! Kalau tak ada uang, gadaikan saja perhiasanku! Suatu hari nanti bisa ditebus lagi!“

Wu Dalang meminjam uang sebanyak 10 Tael dan menyewa tempat tinggal dengan empat ruangan, dua ruangan di lantai dasar, dua ruangan di lantai atas, dan juga sebuah kebun kecil. Sebuah tempat tinggal yang bagus dan tenang. Urusan pindah rumah selesai sudah, dan seperti biasa Wu Dalang menyusuri jalan-jalan di kota menjual kue untuk menafkahi rumah tangga. Dan secara kebetulan di jalan ia berjumpa dengan adiknya Wu Song. Dengan sangat gembira ia mengajak adiknya ke rumah tinggal yang baru. Ia membawanya ke ruangan atas dan dengan bangga mengenalkan pada istrinya. „Ini yang tersohor, si pembunuh harimau dari hutan Kim-yang dan yang sekarang menjabat menjadi kepala pasukan, iparmu Wu Song!“

Penuh kekaguman, sambil melipat tangan, Teratai Emas memandang kepada iparnya. „Sepuluh ribu kali selamat“ bisiknya, dan kedua orang itu menjura satu sama lain memberi hormat. Dengan agak malu Wu Song memperhatikan kecantikan kakak iparnya yang sempurna. Karena ingin menjamu makan adiknya dan melihat persediaan di dapur yang tak mencukupi, Wu Dalang meninggalkan adik dan istrinya di ruang atas, dan pergi ke pasar untuk belanja.

Teratai Emas memandangi bentuk tubuh lelaki di hadapannya, dengan kekaguman yang ditahan, ia membayangkan betapa besar kekuatan yang dimiliki untuk membunuh seekor harimau. ‚Bagaimana mungkin, bahwa kedua orang ini bisa berasal dari ibu yang sama‘ pikirnya dalam hati. ‚Yang satu mirip pohon bonsai ke injak, tiga bagian manusia dan tujuh bagian setan jelek! Yang satu lagi laki-laki perkasa tinggi besar dengan tubuh berotot! Oh, ia harus pindah, tinggal bersama kita!‘ Rencana  pun selesai dibuat. „Kau tinggal di mana,? tanyanya dengan wajah penuh senyum. „Dan siapa yang mengurusmu?“

„Dinasku tidak mengizinkan untuk tinggal terlalu jauh dari pasukan. jadi aku tinggal di sebuah penginapan di Yamen. Dua orang anak buahku mengurus kebutuhanku“

„Iparku yang baik, maukah engkau pindah ke rumah kita? Tentara kotor untuk masak dan melayani, brr sangat mengganggu nafsu makan!“

„Aku sangat berterima kasih padamu“ kelit Wu Song ragu-ragu.

„Engkau pasti ada teman serumah bukan? tanya Teratai Emas hati-hati, „Engkau bisa tinggal di sini bersama dia“

„Aku belum menikah“

„Berapakah umurmu?“

„28 tahun“

„Jadi kau 5 tahun lebih tua dariku. Di manakah engkau tinggal sebelum ini?“

„Aku pernah tinggal satu tahun di Tsang-chou-fu. Aku tidak tahu kalau kakakku sudah pindah ke sini“

„Sejak pernikahanku dengan kakakmu, walau ia tentu saja punya hal yang baik, tetapi aku menderita di bawah hinaan dan tertawaan orang sekitar. Seandainya kau tinggal di sini, pasti tak akan ada yang berani mengucapkan kata-kata hinaan sepatah kata pun“

„Hm ÖAdikku adalah seorang yang baik, Ötidak seperti aku“

„Oh ya“ kata Teratai Emas sambil tertawa.“

Kedua orang asyik berbincang-bincang di kamar atas. Akhirnya datanglah Wu Dalang. „Istriku, tolong turun ke bawah untuk mengurus makanan“

„Ah, mengapa harus repot, panggil saja ibu Wang, biar dia yang urus dapur“

Suami penurut itu kemudian pergi menjemput ibu Wang dari rumah sebelah. Dan akhirnya meja makan dipenuhi bermacam-macam makanan lezat, ada ikan, daging, sayuran, arak dan kue. „Silakan araknya diminum!“ kata Teratai Emas pada tamunya. Tanpa lelah Teratai Emas menawarkan ini dan itu dengan senyum dikulum.

Wu Song adalah seorang kasar, ia menerima semua keramahan tanpa mengetahui bahwa Teratai Emas besar di dunia pelayanan dan hiburan, sehingga tidak menyadari adanya rencana terselubung dibalik semua itu. Sekali-kali ia merasakan mata Teratai Emas membelai tubuhnya dan ia hanya bisa menundukkan kepala kemalu-maluan. Selesai makan, ia cepat pamit pulang, segala bujuk rayu nyonya rumah di tolaknya. „Lain kali saja!“

„Tapi kau pindah ke rumah kita bukan? kau tahu, bagaimana kita menderita di bawah hinaan orang. Keberadaanmu di sini sangat berharga“ bisiknya di pintu keluar.

„Baiklah, karena kau sangat menginginkan, nanti malam akan aku kirim barang-barangku ke sini“

„Aku menunggu!“

Bersambung

Diterjemahkan oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

 

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s