Bab 8 | Rou Pu Tuan | Tikar Doa Dari Daging

aldi_surjana_rouputuan_rou_pu_tuan_the_carnal_prayer_mate_tikar_doa_dari_dagingLima kekecualian untuk tidak melakukan pencurian

„Sangat mengena. Tapi tolong kau jelaskan, mengapa kau membuat kekecualian pada lima kasus ini?“

„Dengan senang hati, Misalnya kekecualian kesatu: Seseorang yang rumahnya sedang dirundung malang, apakah itu penyakit, kematian atau berduka cita dalam keluarganya, atau sedang sial seperti kebakaran, kerugian mendadak dalam perdagangan atau mendapat hukuman dari Kaisar, adalah sangat tidak etis untuk mencuri kerumahnya, bagaikan menuangkan minyak panas pada api, membuat orang lebih menderita lagi.

Kekecualian kedua: Sebuah keluarga sedang sangat bahagia, apakah pernikahan, kelahiran seorang anak lelaki, baru sembuh dari penyakit berat, rumah baru, pesta ulang tahun, adalah sangat tidak baik, bila dengan pencurian aku membuat suasana penghuni rumah menjadi suram dan mengacaukan harapan masa depannya.

Kekecualian ketiga: Mencuri dirumah orang tak dikenal bagiku tidak masalah, itu tidak kuanggap sebagai urusan yang tidak benar. Tetapi jika urusannya menyangkut seorang kenalan baik, yang sehari-hari bertemu dijalan dan bertukar salam, manusia jenis ini, yang tidak mempunyai permusuhan apa-apa denganku, dan aku harus mencurinya? -tidak, aku harus merasa sangat malu!

Kekecualian keempat: Bahwa dalam melakukan pekerjaanku, paling pertama kuincar adalah orang yang emas dan peraknya berlimpah, menurutku itu benar. Artinya, aku hanya mengambil sedikit kelebihannya, anggap saja sedikit pajak atau upeti? Mencuri dirumah orang seperti itu menurutku tidak ada salahnya. Tetapi aku membatasi  hanya untuk satu kali saja, bila aku mendatanginya lagi membuatku seolah-olah haus harta benda dan tidak ada puas-puasnya. Untuk mendatanginya sekali lagi tidak ada dalam kamusku.

Kekecualian kelima: Ada jenis manusia yang berhati sempit, sangat berhati-hati dan takut berlebihan, yang setiap malam rumahnya dijaga terhadap pencuri dan maling. Tak henti-hentinya dari mulutnya keluar kata-kata yang mengagetkan seperti rampok dan maling. Bagiku itu sangat tidak bersahabat dan langsung kubayar dengan tindakan tidak bersahabat yang sama, dimana aku justru memasuki rumahnya dan mencuri sebanyak-banyaknya untuk membuktikan, bahwa penjagaannya tidak berguna terhadap diriku. Itu kunamakan kebanggaan pekerjaan.

Sebaliknya ada orang yang berhati luas, suka membantu, sadar sepenuhnya, bahwa uang tidak membuat bahagia. Ia tidak memikirkan uangnya, sehingga sering lupa untuk menutup pintu gerbang dimalam hari atau mengunci kamarnya. Jika aku mencuri orang semacam itu, aku harus menyalahkan diriku, bahwa aku hanya mengincar yang lemah dan menghindar dari yang kuat dan aku harus merasa sangat malu!

Jadi itulah kelima prinsip dasar yang kuhormati dalam menjalankan pekerjaanku. Oleh karena itu aku sangat dihormati oleh orang-orang, baik dekat maupun jauh. Meskipun orang mengenalku sebagai maling dan rampok, tapi mereka tidak memperlakukan aku sebagai maling dan rampok. Bahkan sebaliknya, mereka menganggap sebagai suatu kehormatan, berteman denganku. Singkatnya, jika kau tidak menganggap hina, ayo kita mengangkat saudara disini dan sekarang! Bisa saja nanti kau membutuhkan bantuanku. Maka kau bisa yakin, bahwa aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk itu, juga bila aku harus kehilangan nyawa!“

Si pemuda menarik nafas dalam-dalam penuh kekaguman dan berpikir dalam hati:

„Benar-benar seorang maling budiman, siapa kira!“, Dan meneruskan pikirannya: „Ia menawarkan bantuannya padaku. – Bagaimana bila aku menggunakannya sesuai kebutuhanku? – Mungkin ia benar berguna bagiku menjadi semacam budak kulit hitam Kunlun, yang akan membantuku mendapatkan „Merah kemilau“ kedua, yang tak dapat kuperoleh, tersembunyi dari dunia ramai, entah dimana dibelakang  tembok istana – Bagaimana bila aku menugaskannya untuk mencuri si cantik yang tersembunyi untukku? – Benar-benar sangat menegangkan!“

Pikiran ini membuat seluruh anggota tubuhnya menjadi tidak bisa diam, tangan mengacung keudara, kaki menghentak ke bumi saking gairahnya. Ia memaksakan sikap luarnya dan dengan suara datar:

„Ki hao!, sangat baik! Usulmu, bahwa kita mengangkat saudara, aku setuju“

Tidak terlihat kepuasan pada wajah si pemuda, dan bandit Kunlun pun merasakan.

„Apakah kau serius? Kelihatannya kau mengkhawatirkan sesuatu. Dalam hal ini aku bisa menenangkanmu. Meskipun yang kulakukan bukan sesuatu yang baik dan kadang-kadang juga dengan kekerasan, tapi aku tidak akan konflik dengan pemerintah, seandainya yang terparah terjadi, aku akan menjalani hukuman mati sendiri, tidak akan menyeret-nyeret namamu yang tidak ikut bersalah. Untuk itu kau tidak perlu khawatir.“

‚Sungguh seorang ahli kejiwaan! Bagaimana ia bisa menebak kekhawatiran dalam hatiku‘, pikir si pemuda terkagum-kagum dalam hati, kemudian tanpa khawatir, gembira dan jujur, ia memberikan persetujuannya.

Mereka langsung melaksanakan, secara patungan keduanya memesan tiga ekor binatang kurban, seekor ikan emas, seekor ayam, seekor bebek dan dikirim ke dapur penginapan untuk disiapkan, satu sama lain saling menukar delapan huruf kelahiran, jam, hari bulan dan tahun, mengusapkan darah dari ketiga binatang kurban ke mulut masing-masing dan bersumpah setia persaudaraan sampai mati. Kemudian diketahui, bahwa bandit kunlun sepuluh tahun lebih tua dari pada pemuda kita

Sesuai adat, mereka menggunakan kata panggilan Hsiung (Kakak yang lebih tua) dan Ti (Adik yang lebih muda). Sebagai penutup acara pengangkatan saudara, mereka menyantap panggang binatang kurban dan minum banyak arak dan arak buah jenis terbaik. Pesta makan minum berlangsung sampai tengah malam. Kemudian yang lebih tua ingin permisi pulang kekamarnya. Saudara yang lebih muda menentangnya:

„Sekarang tidur terpisah adalah penutupan pesta yang menyedihkan. Alangkah baiknya, bila kau ikut ke kamarku, tidur di ranjangku, dan mempersingkat malam panjang dengan sedikit mengobrol?“

Yang lebih tua langsung setuju dan mengikuti yang lebih muda ke kamarnya. Mereka melepaskan pakaian dan tidur berdampingan di ranjang, si Siucai langsung membuka pembicaraan dengan tema kesukaannya:

„Sebenarnya aneh, bahwa di tempat yang begitu menarik tidak pernah bertemu dengan wanita yang menarik“, katanya.

„Apa maksudmu? Apakah kau masih bujangan dan dalam pencarian pasangan yang cocok?

„Bukan begitu, aku sudah menikah. Hanya saja jika sudah lama keluar dari rumah, siapa bilang harus dengan yang satu itu saja? Sedangkan selain istri sendiri juga masih ada wanita lain. Sedikit pertemanan dengan wanita di perjalanan, adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Terus terang, aku adalah pecinta permainan angin dan bulan. Aku tidak dapat menghindarinya, secara alamiah aku sudah ditakdirkan begitu. Bahwa tujuan perjalanan ini untuk persiapan ujian negara, itu hanya alasan. Aku hanya ingin menenangkan istriku dan ayah mertuaku. Sesungguhnya ada sebab lain yang mendorongku ke tempat jauh: Aku ingin mencari pengalaman dan bertualang! Oleh karenanya aku mengembara – Tapi sayang tanpa hasil. Wanita yang berhasil kutemui hanyalah yang biasa-biasa saja. Tidak pernah kutemui Danita dengan kecantikan tidak biasa. Singkatnya, aku sudah cukup berkeliling dan sekarang sudah jenuh.“

„Tidak heran, Kau telah memulainya dengan terbalik. Wanita dan anak gadis keluarga bangsawan tidak memperlihatkan diri didepan umum. Yang memperlihatkan diri didepan umum itu bukan dari keluarga bangsawan . Bahkan bagi pelacur, gadis penyanyi dan gadis penari memperlihatkan diri didepan umum akan mendapat sorotan negatif. Hanya yang tidak cantik, mulai layu dan tidak seksi lagi, yang umumnya mencari langganan di depan pintu dengan senyum dan tawa. Sedangkan yang lainnya, asal sedikit terkenal saja, biasanya hanya duduk manis diruang tamu dan menunggu, bahwa ‚pangeran‘-nya akan datang dan menemukannya dan membawanya keluar dari tempat persembunyian. Bila sudah menyangkut didepan umum, ada peraturan tertentu yang menyulitkan gadis dari keluarga baik-baik untuk menghabiskan waktu didepan pintu rumahnya agar dilihat oleh mata pria asing. Kau harus mencarinya lama sekali. Jika kau ingin mencari si cantik disini, sebaiknya kau bertanya padaku“

„Apa! kepadamu? Engkau kan bukan pemain dipanggung permainan angin dan bulan? Dari mana kau bisa tahu?“

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Rou Pu Tuan“, atau The Carnal Prayer Mat

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s