Bab 27 | Jin Ping Mei | Petualangan Ximen Dan Enam Istrinya

aldi_surjana_jinpingmei_jin_ping_mei_the_plum_in_the_golden_vase_petualangan_ximen_dan_enam_istrinya_bahasa_indonesia_aldi_surjana_golden_lotus_aldisurjanaKesepian berbagi bantal membuat Teratai Emas susah tidur

Setengah bulan sudah Ximen  menghabiskan waktu bersama nona Bunga Kamar di rumah pelesiran, tanpa sekali pun pulang ke rumah. Nyonya Bulan sudah beberapa kali mengirim pelayan dan kuda tunggangan untuk menjemputnya, tetapi selalu ditahan oleh ibu Li, di mana ia menggunakan akal dengan menyembunyikan pakaian Ximen.

Kelima istri Ximen  di rumah merasa terhina dan tercampak. Bagi yang lain mungkin tidak seberapa, tetapi tidak bagi Teratai Emas, yang umurnya belum sampai 30, yang hasratnya masih berkobar-kobar, tentu sangat sulit menerima keadaan demikian. Setiap hari ia bersandar di pintu paviliun, menunggu kepulangannya dengan penuh kerinduan. Dan bila hari menjadi gelap, ia kembali ke kamarnya dengan kecewa.

Tetapi kesepian berbagi bantal sangat mengganggu, ia menjadi susah tidur, sehingga sering bangun di tengah malam dan berjalan jalan di taman untuk menenangkan hatinya. perlahan lahan ia melangkah melewati lumut dan rumpun bunga, dengan pikiran melayang memandang permukaan daun teratai berkilauan tertimpa cahaya bulan.

Ketika dulu Mong Yuloh masuk ke rumah Ximen  ia membawa serta seorang pelayan lelaki tampan, anak berumur belasan tahun bernama Kintung . Sekarang umurnya kira 16 tahun. Ximen  mempekerjakannya sebagai perawat kebun dan memberikannya sebuah gubuk kecil di samping gerbang taman sebagai tempat tinggal.

Bila Teratai Emas dan Mong Yuloh di siang hari membuat pekerjaan tangan atau bermain catur, Kintung  sering membantu dan menjadi perpanjangan tangan. Ia selalu memperlihatkan sikap siap membantu dan kerjanya sangat cekatan. Pada hari-hari Ximen  tidak di rumah ia selalu mengawasi pintu gerbang, menunggu kedatangan tuannya, agar cepat-cepat bisa melaporkan kedatangannya. Nyonya Teratai Emas menyukai pelayan yang cakap ini, sering mengundang ke paviliunnya, memberikan makan dan minum, dan lambat laun ia mempunyai kebutuhan untuk selalu di dekatnya.

Bulan ke tujuh pun datang, dan Hari ulang tahun Ximen  sudah di ambang pintu. Atas dasar itu, Nyonya Bulan mencoba lagi untuk yang ke sekian kali, memanggil pulang Ximen  dari wilayah „arak dan bunga“, di mana ia mengirim pelayan pribadi dan kuda tunggangannya. Teratai Emas menggunakan kesempatan tersebut untuk menitipkan sebuah surat untuk Ximen  pada pelayan itu secara rahasia. Ia harus memberikannya pada Ximen secara diam-diam tanpa diketahui orang lain dan meminta Ximen  pulang ke rumah. Pelayan Tai A’rl memergoki tuannya Ximen  di tempat tinggal ibu Li, sedang bermain kartu dengan gembira, dan seorang gadis berbedak di pelukannya. Di sekelilingnya duduk teman-teman dari gangnya.

„Mau apa kau ke sini? Apakah terjadi sesuatu di rumah?“ tanya Ximen  pada pelayannya.

„Tidak ada apa-apa“

„Apakah kau membawakan pakaian baru untuk nona Bunga Kamar?“

„Ini“ Tai A’rl membuka tas yang dipegang di tangan, dan mengeluarkan sebuah pakaian sutera warna merah muda dan sebuah rok dengan belahan berwarna biru.

Nona Bunga Kamar menerimanya dengan gembira dan mengajak pelayan itu turun ke bawah, untuk diberikan sedikit makanan dan segelas arak sebagai upah. Ketika Tai A’rl kembali ke atas, ia membungkukkan tubuh dan berbisik ke kuping Ximen : „Ini ada kabar dari nyonya kelima. Tuan diharapkan secepatnya kembali ke rumah“

Belum sempat Ximen  memegang surat yang diberikan padanya, Bunga Kamar sudah merebutnya. „Pasti surat cinta dari salah satu si cantikmu“ katanya, sambil memperhatikan surat. „Bacakan!“ pintanya pada Chu Shinien karena ia buta huruf.

Chu Shinien membuka gulungan surat dan membaca. Baru saja ia membaca beberapa patah kata surat yang ditulis dalam bentuk syair itu, yang isinya antara lain mengatakan kerinduan Teratai Emas pada Ximen. Bunga Kamar langsung berdiri, meninggalkan meja jamuan dan masuk ke kamarnya. Ia melemparkan dirinya ke atas ranjang, dan wajahnya ditekankan ke bantal, kemudian tertidur.

Ximen  mengambil gulungan surat yang mengganggu perasaan nona Bunga Kamar, dan mencabik cabiknya hingga menjadi potongan-potongan kecil. Lalu di depan orang banyak, ia menghadiahkan dua tendangan kepada kepada pembawa surat yang malang, pelayannya Tai A’rl, dan mengusir pergi dari situ.

Akhirnya, setelah dua kali tanpa hasil mengirim orang untuk memanggil Bunga Kamar, dengan kesal Ximen melompat dari tempat duduknya dan pergi mencarinya sendiri. Ia memasuki tempat tidurnya Bunga Kamar, menariknya dan berbicara lembut kepadanya: „Nona, janganlah kau marah-marah. Surat itu tidak ada apa apanya. Istri kelimaku mengirimnya, karena ia menginginkan aku pulang ke rumah sebentar, sebab ada yang ingin dibicarakan denganku. Hanya itu.“

„Jangan percaya! Bohong!“ sela Chu Shinien ikut campur yang tadi mengikuti Ximen. „Penulis surat itu adalah kekasihnya yang terbaru, saingan berat bagimu. Jangan biarkan ia pergi!“

Sambil tertawa Ximen  menepuknya. „Dasar kau tukang bercanda, membuat orang tambah kacau saja dengan kata-katamu.“

Dengan ironis Bunga Kamar berkata: „Tuan Ximen, karena kau di rumah sudah diurus dengan baik, tidak perlu lagi kau mengambil keperawanan wanita lain. Tinggallah baik baik di rumah. Sudah cukup lama kau tinggal di sini, sudah waktunya kau pulang.“ Ximen  memeluknya dengan lembut ke dadanya dan tetap tinggal di situ.

Bersambung

Diterjemahkan Oleh: Aldi Surjana
Novel dinasti Ming „Jin Ping Mei“, atau The Plum in the Golden Vase

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google Foto

Du kommentierst mit Deinem Google-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s